Imam Bachtiar
Ketua Pusat Penelitian Pesisir dan Laut (P3L) Universitas Mataram
Dipubikasikan di Lombok Post, Sabtu, 3 Pebruari 2007, halaman 14, OPINI
Keracunan akibat makan ikan laut kadang muncul di koran Lombok Post ini, salah satunya diberitakan pada hari Senin 15 Januari 2006 yang lalu. Sebagian korban bahkan meninggal dunia, dengan puluhan orang harus dirawat. Tetapi penjelasan tentang keracunan ikan ini masih sangat jauh dari cukup untuk dapat dijadikan pelajaran oleh masyarakat, agar dapat menghindarinya di kemudian hari. Tulisan ini dimaksudkan untuk menambah penjelasan yang lebih rinci tentang keracunan akibat mengkonsumsi ikan yang secara ilmiah disebut dengan ciguatera (baca: siguatera).
Ciguatera merupakan kondisi keracunan pada manusia yang diakibatkan oleh konsumsi
hewan laut (ikan). Penyakit ini telah dikenal sejak berabad-abad yang lalu. Ciguatera telah sering terjadi di kawasan tropis dan sub-tropis Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Indonesia yang terletak di antara kedua samudra tersebut merupakan salah satu kawasan yang banyak terjadi ciguatera. Setiap tahun diperkirakan 10.000-50.000 orang mengalami ciguatera di seluruh dunia. Penyebab utama ciguatera adalah makanan laut dari ikan bersirip (finfish). Read more…
Categories: coastal management, coral reef, ekosistem pesisir, terumbu karang
Tags: alergi, ciguatera, ikan, kematian, keracunan, laut, nutrien, pencemaran
Imam Bachtiar
Pusat Penelitian Pesisir dan Laut, Universitas Mataram
Dipublikasi di Bali Post, Senin, 5 Pebruari 2007, halaman 7, OPINI
Pada minggu lalu dilaporkan terjadinya terjadinya kematan masal ikan laut di kawasan perairan Tabanan. Ada dugaan bahwa kematian masal ikan laut tersebut akibat terjadinya pencemaran. Pencemaran apakah yang dapat membunuh ikan? Pada umumnya kematian masal ikan di laut disebabkan oleh perubahan alam, misalnya penyakit, bakteri dan protozoa, penurunan kualitas air, kenaikan suhu air, serta perubahan salinitas akibat hujan sangat lebat. Kebanyakan kematian ikan terjadi ketika oksigen terlarut (DO, dissolved oxygen) konsentrasinya menurun hingga ke tingkat yang mematikan. Penurunan DO seperti ini dapat terjadi karena pembusukan bahan organik.
Pembusukan bahan organik di laut dapat berasal dari biomasa alga. Banyaknya nutrien di laut akibat pupuk yang terbawa banjir akan menyebabkan suatu ledakan populasi alga (algal bloom). Ketika biomasa alga tersebut membusuk banyak menyerap oksigen di dalam air. Hal ini membuat DO menurun ke tingkat yang sangat rendah terjadi kondisi hipoksia (kurang oksigen) dan anoksia (tanpa oksigen) sehingga biota anaerobik mengambil alih proses pembusukan bahan organik. Pembusukan secara anaerobik tersebut menghasilkan gas-gas hidrogen sulfida dan amonia yang bersifat toksik (racun) bagi ikan dan organisme lainnya. Kurangnya oksigen dan meningkatnya gas beracun membuat ikan mati secara masal. Read more…
Categories: coastal management, coral reef, ekosistem pesisir, terumbu karang
Tags: anoksia, bali, ciguatera, ciguatoxin, hujan, ikan, keracunan, kerapu, laut, lemuru, makan, mati, pencemaran
Recent Comments