CACING NYALE BERTELUR EMAS DI LOMBOK TENGAH

February 25, 2017 Leave a comment

Imam Bachtiar

Dosen Biologi di FKIP Universitas Mataram

(Dipublikasikan di Lombok Post, Selasa 17 Januari 2017, Opini, halaman 9)

 

Bulan depan masyarakat Kabupaten Lombok Tengah akan melaksanakan tradisi bau nyale di perairan Pantai Seger dan sekitarnya. Tradisi tahunan ini akan diikuti oleh puluhan ribu wisatawan, baik wisatawan nusantara maupun mancanegara. Tradisi bau nyale sangat tergantung pada keberadaan cacing nyale, yaitu cacing yang menghasilkan nyale. Tanpa cacing nyale tradisi bau nyale tidak dapat dilaksanakan.

Jika cacing nyale dapat dijual ke sebuah perusahaan, sehingga tradisi bau nyale tidak lagi dapat dilaksanakan di Kecamatan Pujut, Lombok Tengah. Berapakah harga cacing nyale yang pantas kita tawarkan? Apakah kita akan menjualnya dengan harga 10 milyar, ataukah dengan harga 100 milyar? Dapatkah kita menentukan harga dari cacing nyale tersebut? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini mencerminkan seberapa penting cacing nyale bagi masyarakat Pujut atau bagi masyarakat Lombok Tengah pada umumnya. Tanpa cacing nyale, tradisi bau nyale tidak dapat dilaksanakan. Tanpa cacing nyale, Lombok Tengah kehilangan salah satu kebanggaan identitas kedaerahannya.

Bagi masyarakat modern Lombok Tengah, cacing nyale bukan lagi hanya sekedar akar dari tradisi atau kebanggaan daerah, melainkan juga sumber perekonomian daerah yang sangat penting. Cacing nyale mendatangkan banyak rupiah dan dollar ke Lombok Tengah dalam bentuk kunjungan wisatawan atau investasi sarana dan fasilitas pariwisata. Jika kita sulit menentukan harga cacing nyale karena terlalu penting, maka cacing nyale dapat dianalogikan dengan cerita angsa yang bertelur emas. Cacing nyale bertelur emas. Read more…

MENGAPA NYALE TIDAK KELUAR PADA BAU NYALE 17 PEBRUARI 2017 ?

February 25, 2017 Leave a comment

Oleh Imam Bachtiar

(Dipublikasikan di halaman Opini, Lombok Post, 20 Pebruari 2017, hal. 9)

Sejumlah tulisan di media sosial dan media on-line mempertanyakan, mengapa nyale tidak keluar pada acara Bau Nyale 2017? Mengapa nyale juga tidak keluar pada saat acara Bau Nyale 2015? Semua ini menunjukkan bahwa memprediksi keluarnya nyale memang tidak mudah. Kekurang-akuratan prediksi keluarnya nyale tidak hanya terjadi di Pulau Lombok, tetapi juga terjadi di Pulau Samoa dan Kepulauan Hawaii. Tulisan ini mencoba mencari penjelasan ilmiah ketidak-akuratan tersebut dan cara baru (ilmiah) memprediksi keluarnya nyale.

Selama ini prediksi keluarnya nyale didasarkan pada cara-cara tradisional, dengan menggunakan warige. Warige sendiri adalah hasil karya adi luhung para pemikir SasakĀ  jaman dahulu. Kompleksitas perilaku cacing nyale, siklus reproduksi dan siklus oseanografi ternyata tidak semuanya mampu dimasukkan ke dalam model prediksi tradisional. Dalam lima tahun terakhir, kesalahan prediksi terjadi dua kali.

Model prediksi ilmiah belum tersedia sampai saat ini. Memang patut disayangkan, tidak ada ilmuwan Lombok yang mendalami hal ini secara ilmiah. Mungkin ada kehati-hatian yang besar dari para ilmuwan untuk tidak bersinggungan dengan ranah tradisional. Kehati-hatian yang berlebihan ini sebenarnya dapat dimaklumi untuk menghindari konflik antara ilmuwan dan tetua adat yang bisa saja muncul jika terjadi perbedaan prediksi antara mereka.
Read more…

MENGAPA NYALE TIDAK KELUAR DI TAHUN 2015: SEBUAH HIPOTESIS

February 18, 2015 Leave a comment

Imam Bachtiar

Ketua Pusat Penelitian Pesisir dan Laut, Universitas Mataram

(Dipublikasikan di koran Suara NTB Jumat 13 Pebruari 2015, hal. 14)

Kegiatan pariwisata Bau Nyale tahun 2015 terasa tidak lengkap karena cacing nyale tidak keluar di malam yang diharapkan. Kejadian ini menggugah kembali hipotesis lama yang hampir saya lupakan. Sebagai sebuah hipotesis atau dugaan sementara, kebenarannya masih harus diuji dengan fakta dan kenyataan. Jika kita memiliki catatan keluarnya cacing nyale dalam 10 tahun terakhir, kita dapat menguji apakah hipotesis yang saya tuliskan di sini akan didukung oleh kenyataan.

Acara Bau Nyale (menangkap cacing laut) merupakan salah satu tradisi masyarakat Sasak yang sangat penting, khususnya bagi masyarakat di pesisir selatan. Bau Nyale yang awalnya merupakan peristiwa budaya telah berevolusi menjadi peristiwa ekonomi yang berkaitan dengan pariwisata. Dalam kehidupan masyarakat Sasak, Bau Nyale merupakan upacara adat sekali setahun yang dihiasi dengan beragam pentas budaya. Pentas drama Putri Mandalika merupakan menu utama, yang menyajikan pengorbanan seorang putri untuk kedamaian negaranya. Sang Putri Mandalika menceburkan dirinya ke laut untuk menghindari perang antar kerajaan yang menginginkan dirinya. Nilai pengorbanan putri selalu diajarkan sebagai nilai kebangsawanan Sasak yang lebih mengutamakan kepentingan rakyat di atas dirinya sendiri. Sang Putri yang ikhlas berubah menjadi cacing laut yang memberikan manfaat bagi rakyat Lombok di pesisir selatan. Sejak tahun 1980-an Bau Nyale telah menjadi atraksi pariwisata. Beragam kesenian Sasak dipentaskan di tengah lautan manusia yang berasal dari beragam budaya dan bangsa. Read more…

Status Hewan Echinodermata di Pulau Lombok

January 15, 2014 Leave a comment

IMAM BACHTIAR
Jurusan Pendidikan MIPA, FKIP, Universitas Mataram
Pusat Penelitian Pesisir dan Laut, Universitas Mataram

A. Pendahuluan
Komunitas Echinodermata merupakan kelompok hewan-hewan yang sangat penting di dalam ekologi pesisir dan laut. Sebagian kerusakan terumbu karang disebabkan oleh pemangsaan bintang laut dari anggota komunitas Asteroidea. Sebaliknya, pemulihan terumbu karang yang rusak juga sebagian besar tergantung dari peran kamunitas Echinoidea sebagai pemakan makroalgae. Laju erosi kapur di terumbu karang juga banyak ditentukan oleh kelimpahan populasi fauna Echinoidea. Kondisi ekosistem padang lamun juga ditentukan oleh keseimbangan populasi fauna di dalam komunitas Echinodermata.
Komunitas Echinodermata juga merupakan hewan yang penting di dalam pendidikan. Pada umumnya siswa SMA atau mahasiswa lebih banyak belajar tentang hewan-hewan di daratan dan perairan tawar. Sebagian besar buku-buku Biologi juga memberikan contoh kasus di ekosistem daratan dan perairan tawar. Hewan Echinodermata setidaknya mempunyai tiga keunikan yang jarang ditemukan pada filum hewan yang lain. Pertama, semua hewan Echinodermata hanya hidup di perairan laut. Dengan demikian, kelompok hewan Echinodermata lebih banyak mengandung misteri daripada filum hewan lainnya. Kedua, hewan Echinodermata mempunyai bentuk tubuh yang radial simetris, yang banyak berbeda dari hewan daratan dan perairan tawar. Ketiga, ukuran dan warna komunitas Echinodermata sangat menarik untuk dipelajari di dalam mata kuliah Zoologi Invertebrata. Read more…

ADAPTASI PERUBAHAN IKLIM GLOBAL: BELAJAR PENGELOLAAN PARTISIPATIF DI TELUK EKAS

November 30, 2011 Leave a comment

Oleh Imam Bachtiar
Dosen Biologi FKIP Universitas Mataram
(Tulisan ini telah dipublikasikan di koran Lombok Post 23-24 Nopember 2011)

Perubahan iklim global mengancam ketahanan kawasan pesisir terhadap erosi pantai. Peningkatan paras muka air laut yang sangat cepat, peningkatan intensitas dan frekuensi badai, dan peningkatan frekuensi kematian masal karang; ketiganya secara sinergis akan mengakibatkan erosi pantai. Pasir pantai akan tergerus hingga banyak lahan pesisir akan menjadi laut, terutama di ribuan pulau-pulau mikro di Indonesia. Pengeboman ikan menambah kerentanan kawasan pesisir dari ancaman erosi pantai yang terkait perubahan iklim global. Kita tidak dapat menghilangkan ancaman perubahan iklim global, tetapi dapat meningkatkan ketahanan (resistensi) dan kekuatan pemulihan (resiliensi) ekosistem pesisir. Pengalaman di Teluk Ekas dapat menjadi salah satu kajian bagaimana partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya perikanan dapat mengurangi ancaman dampak perubahan iklim global.
Teluk Ekas di antara dua kabupaten
Teluk Ekas terletak di antara Kabupaten Lombok Timur dan Lombok Tengah. Teluk tersebut dikelilingi oleh 6 desa dari 2 kecamatan. Desa Awang dan Desa Bile Lando (Kecamatan Praya Timur, Kabupaten Lombok Tengah), Desa Batunampar, Desa Sukaraja, Desa Jerowaru, dan Desa Pemongkong (Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur). Banyaknya penduduk yang menghuni desa di sekitar teluk menunjukkan tingginya potensi sumberdaya di dalam teluk, tingginya ketergantungan masyarakat terhadap sumberdaya di teluk, dan banyaknya calon korban perubahan iklim. Read more…

CIGUATERA, KERACUNAN IKAN LAUT

October 24, 2011 5 comments

Imam Bachtiar
Ketua Pusat Penelitian Pesisir dan Laut (P3L) Universitas Mataram

Dipubikasikan di Lombok Post, Sabtu, 3 Pebruari 2007, halaman 14, OPINI

Keracunan akibat makan ikan laut kadang muncul di koran Lombok Post ini, salah satunya diberitakan pada hari Senin 15 Januari 2006 yang lalu. Sebagian korban bahkan meninggal dunia, dengan puluhan orang harus dirawat. Tetapi penjelasan tentang keracunan ikan ini masih sangat jauh dari cukup untuk dapat dijadikan pelajaran oleh masyarakat, agar dapat menghindarinya di kemudian hari. Tulisan ini dimaksudkan untuk menambah penjelasan yang lebih rinci tentang keracunan akibat mengkonsumsi ikan yang secara ilmiah disebut dengan ciguatera (baca: siguatera).
Ciguatera merupakan kondisi keracunan pada manusia yang diakibatkan oleh konsumsi
hewan laut (ikan). Penyakit ini telah dikenal sejak berabad-abad yang lalu. Ciguatera telah sering terjadi di kawasan tropis dan sub-tropis Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Indonesia yang terletak di antara kedua samudra tersebut merupakan salah satu kawasan yang banyak terjadi ciguatera. Setiap tahun diperkirakan 10.000-50.000 orang mengalami ciguatera di seluruh dunia. Penyebab utama ciguatera adalah makanan laut dari ikan bersirip (finfish). Read more…

KEMATIAN MASAL IKAN DI LAUT

October 24, 2011 Leave a comment

Imam Bachtiar
Pusat Penelitian Pesisir dan Laut, Universitas Mataram

Dipublikasi di Bali Post, Senin, 5 Pebruari 2007, halaman 7, OPINI

Pada minggu lalu dilaporkan terjadinya terjadinya kematan masal ikan laut di kawasan perairan Tabanan. Ada dugaan bahwa kematian masal ikan laut tersebut akibat terjadinya pencemaran. Pencemaran apakah yang dapat membunuh ikan? Pada umumnya kematian masal ikan di laut disebabkan oleh perubahan alam, misalnya penyakit, bakteri dan protozoa, penurunan kualitas air, kenaikan suhu air, serta perubahan salinitas akibat hujan sangat lebat. Kebanyakan kematian ikan terjadi ketika oksigen terlarut (DO, dissolved oxygen) konsentrasinya menurun hingga ke tingkat yang mematikan. Penurunan DO seperti ini dapat terjadi karena pembusukan bahan organik.
Pembusukan bahan organik di laut dapat berasal dari biomasa alga. Banyaknya nutrien di laut akibat pupuk yang terbawa banjir akan menyebabkan suatu ledakan populasi alga (algal bloom). Ketika biomasa alga tersebut membusuk banyak menyerap oksigen di dalam air. Hal ini membuat DO menurun ke tingkat yang sangat rendah terjadi kondisi hipoksia (kurang oksigen) dan anoksia (tanpa oksigen) sehingga biota anaerobik mengambil alih proses pembusukan bahan organik. Pembusukan secara anaerobik tersebut menghasilkan gas-gas hidrogen sulfida dan amonia yang bersifat toksik (racun) bagi ikan dan organisme lainnya. Kurangnya oksigen dan meningkatnya gas beracun membuat ikan mati secara masal. Read more…