MENGAPA NYALE TIDAK KELUAR DI TAHUN 2015: SEBUAH HIPOTESIS

February 18, 2015 Leave a comment

Imam Bachtiar

Ketua Pusat Penelitian Pesisir dan Laut, Universitas Mataram

(Dipublikasikan di koran NTB Post Jumat 13 Pebruari 2015, hal. 14)

Kegiatan pariwisata Bau Nyale tahun 2015 terasa tidak lengkap karena cacing nyale tidak keluar di malam yang diharapkan. Kejadian ini menggugah kembali hipotesis lama yang hampir saya lupakan. Sebagai sebuah hipotesis atau dugaan sementara, kebenarannya masih harus diuji dengan fakta dan kenyataan. Jika kita memiliki catatan keluarnya cacing nyale dalam 10 tahun terakhir, kita dapat menguji apakah hipotesis yang saya tuliskan di sini akan didukung oleh kenyataan.

Acara Bau Nyale (menangkap cacing laut) merupakan salah satu tradisi masyarakat Sasak yang sangat penting, khususnya bagi masyarakat di pesisir selatan. Bau Nyale yang awalnya merupakan peristiwa budaya telah berevolusi menjadi peristiwa ekonomi yang berkaitan dengan pariwisata. Dalam kehidupan masyarakat Sasak, Bau Nyale merupakan upacara adat sekali setahun yang dihiasi dengan beragam pentas budaya. Pentas drama Putri Mandalika merupakan menu utama, yang menyajikan pengorbanan seorang putri untuk kedamaian negaranya. Sang Putri Mandalika menceburkan dirinya ke laut untuk menghindari perang antar kerajaan yang menginginkan dirinya. Nilai pengorbanan putri selalu diajarkan sebagai nilai kebangsawanan Sasak yang lebih mengutamakan kepentingan rakyat di atas dirinya sendiri. Sang Putri yang ikhlas berubah menjadi cacing laut yang memberikan manfaat bagi rakyat Lombok di pesisir selatan. Sejak tahun 1980-an Bau Nyale telah menjadi atraksi pariwisata. Beragam kesenian Sasak dipentaskan di tengah lautan manusia yang berasal dari beragam budaya dan bangsa.

Keluarnya cacing nyale yang menjadi inti dari Bau Nyale sebenarnya merupakan peristiwa biologis. Nyale atau cacing laut yang berbulu, berruas-ruas dan kepalanya tampak berbeda dari tubuhnya itu muncul dari lubang persembunyiannya untuk memijah, melepaskan telur dan sperma ke dalam air. Pembuahan telur oleh sperma tidak mudah dilakukan di laut yang sangat luas. Peluang pembuahan telur oleh sperma dapat ditingkatkan jika keduanya dikeluarkan pada jam dan hari yang sama, ketika pasut rendah (surut). Gerakan gelombang air seolah mengaduk telur dan sperma sehingga pembuahan lebih banyak terjadi. Zigot dan larva yang dihasilkan oleh pembuahan tersebut juga lebih banyak yang selamat dari pemangsaan ikan dan hewan laut lainnya, jika pemijahan dilakukan bersamaan secara masal. Ikan pemangsa yang kekenyangan akan membiarkan zigot dan larva cacing nyale untuk berlalu dengan selamat. Demikianlah Tuhan menciptakan peristiwa biologis dengan sempurna.

Walaupun sudah lebih seperempat abad dijadikan sebagai mascot pariwisata, penentuan hari Bau Nyale tetap dilakukan secara tradisional. Pewaris wariga membacakan lontar dengan metode tertentu sampai dia menemukan tanggal munculnya cacing nyale tersebut dalam bentuk penanggalan Sasak. Penanggalan Sasak tersebut kemudian dikonversikan ke dalam penanggalan hijriah dan masehi. Selanjutnya pemerintah daerah yang mendesain bagaimana upacara adat Bau Nyale akan dilaksanakan sebagai peristiwa budaya dan pariwisata.

Prediksi tradisional tersebut dianggap memiliki akurasi yang baik, sehingga sebagian besar masyarakat Sasak tidak merasa membutuhkan prediksi yang lebih baik. Tidak adanya penelitian ilmiah yang mencoba untuk membuat prediksi yang lebih baik merupakan bukti tidak adanya kegundahan ilmiah di kalangan cendekiawan Sasak. Pemerintah daerah dan sebagian besar masyarakat Lombok bahkan tidak merasa perlu mencatat kemunculan cacing nyale setiap tahun.

Sebagai komoditas dan mascot pariwisata, prediksi secara tradisional tampaknya tidak lagi memiliki akurasi yang dapat diandalkan. Jika dalam 10 tahun terjadi dua kesalahan prediksi, maka pagelaran budaya pada acara Bau Nyale beresiko mengecewakan wisatawan. Acara Bau Nyale di bulan Pebruari 2015 merupakan salah satu kekurangan akurasi dalam memprediksi munculnya cacing nyale tersebut. Demikian juga tidak adanya cacing nyale pada Bau Nyale tahun 2010.

Sebagai peristiwa biologis, munculnya cacing nyale mengikuti siklus alamiah. Jika kita memahami siklus tersebut, prediksi tanggal munculnya cacing nyale lebih mudah dilakukan secara ilmiah. Kebenaran ilmiah memang tidak pernah absolut, tetapi dapat membantu kita memecahkan banyak masalah. Kebenaran ilmiah boleh salah, tetapi kesalahannya harus terukur. Jika saja kita mempunyai catatan munculnya nyale dalam 20 tahun terakhir, kita dapat membuat permodelan matematis yang dapat memprediksi munculnya nyale dengan peluang kesalahan sekali dalam 20 tahun. Sayangnya, catatan seperti itu hampir tidak dapat ditemukan di Pulau Lombok.

Jika memang tidak ada catatan atau data yang dapat digunakan untuk menyususn model matematis, maka cara kedua adalah dengan menggunakan analogi, yaitu mencari persamaan dengan peristiwa yang lain. Di the Great Barrier Reef (GBR) Australia, misalnya, cacing nyale keluar pada saat yang sama dengan pemijahan karang. Pemijahan masal karang di GBR sudah lama dapat diprediksi secara akurat dari penelitian sekitar 5 tahun. Jika bulan purnama jatuh di pertengahan pertama (sebelum tanggal 15), maka pemijahan karang terjadi setelah purnama bulan berikutnya. Dasar teorinya adalah bahwa telur karang belum cukup matang untuk dipijahkan ke dalam air. Jika bulan purnama jatuh di pertengahan kedua (setelah tanggal 15), maka pemijahan karang terjadi pada bulan yang sama. Bulan terjadinya pemijahan karang di GBR adalah bulan November.

Hewan-hewan yang sederhana, seperti karang, menggunakan beragam tanda-tanda alam untuk secara bersama-sama memijah secara masal. Tanda-tanda alam tersebut memberikan peluang yang maksimal bagi kelestarian jenis hewan tersebut. Perubahan suhu air laut biasanya dijadikan sebagai tanda untuk memulai memproduksi telur dan sperma. Pembentukan telur biasanya 4-6 bulan, sedangkan pembentukan sperma hanya 2 bulan Pembentukan telur berlangsung lebih awal agar dapat dipijahkan bersamaan dengan sperma. Fase bulan, bulan purnama atau bulan mati, berkaitan dengan pasut (pasang surut). Fase bulan digunakan untuk menentukan hari pemijahan, agar memperoleh hasil pembuahan maksimal. Sedangkan lama gelap bulan (sebelum muncul terang bulan) dan lama penyinaran bulan merupakan tanda untuk menentukan jam pemijahan. Salinitas juga dapat dijadikan sebagai tanda untuk memijah ketika cahaya bulan tidak ada. Karang dan cacing nyale sama-sama merupakan hewan laut yang mempunyai struktur sederhana.

Dengan menggunakan analogi antara karang dan cacing nyale, kita dapat membuat hipotesis untuk memprediksi munculnya cacing nyale di Lombok. Bulan utama munculnya cacing nyale adalah Pebruari. Jika purnama di bulan Pebruari jatuh sebelum tanggal 15, maka nyale akan muncul di bulan Maret (nyale poto, nyale akhir), karena telur nyale belum matang. Jika purnama jatuh setelah tanggal 15 Pebruari, maka cacing nyale akan muncul setelah purnama bulan Pebruari (nyale tunggak, nyale awal). Jika purnama jatuh di pertengahan bulan, antara tanggal 14-16 Pebruari, maka cacing nyale akan muncul dua kali, setelah purnama Pebruari dan purnama Maret.

Hipotesis tersebut berdasarkan asumsi bahwa perilaku reproduksi cacing nyale tidak banyak berbeda dengan karang. Sebagaimana dijumpai di GBR, prediksi pemijahan cacing nyale juga sama dengan prediksi pemijahan karang. Mari kita buktikan, apakah hipotesis tersebut didukung dengan bukti berupa kenyataan.

Status Hewan Echinodermata di Pulau Lombok

January 15, 2014 Leave a comment

IMAM BACHTIAR
Jurusan Pendidikan MIPA, FKIP, Universitas Mataram
Pusat Penelitian Pesisir dan Laut, Universitas Mataram

A. Pendahuluan
Komunitas Echinodermata merupakan kelompok hewan-hewan yang sangat penting di dalam ekologi pesisir dan laut. Sebagian kerusakan terumbu karang disebabkan oleh pemangsaan bintang laut dari anggota komunitas Asteroidea. Sebaliknya, pemulihan terumbu karang yang rusak juga sebagian besar tergantung dari peran kamunitas Echinoidea sebagai pemakan makroalgae. Laju erosi kapur di terumbu karang juga banyak ditentukan oleh kelimpahan populasi fauna Echinoidea. Kondisi ekosistem padang lamun juga ditentukan oleh keseimbangan populasi fauna di dalam komunitas Echinodermata.
Komunitas Echinodermata juga merupakan hewan yang penting di dalam pendidikan. Pada umumnya siswa SMA atau mahasiswa lebih banyak belajar tentang hewan-hewan di daratan dan perairan tawar. Sebagian besar buku-buku Biologi juga memberikan contoh kasus di ekosistem daratan dan perairan tawar. Hewan Echinodermata setidaknya mempunyai tiga keunikan yang jarang ditemukan pada filum hewan yang lain. Pertama, semua hewan Echinodermata hanya hidup di perairan laut. Dengan demikian, kelompok hewan Echinodermata lebih banyak mengandung misteri daripada filum hewan lainnya. Kedua, hewan Echinodermata mempunyai bentuk tubuh yang radial simetris, yang banyak berbeda dari hewan daratan dan perairan tawar. Ketiga, ukuran dan warna komunitas Echinodermata sangat menarik untuk dipelajari di dalam mata kuliah Zoologi Invertebrata. Read more…

ADAPTASI PERUBAHAN IKLIM GLOBAL: BELAJAR PENGELOLAAN PARTISIPATIF DI TELUK EKAS

November 30, 2011 Leave a comment

Oleh Imam Bachtiar
Dosen Biologi FKIP Universitas Mataram
(Tulisan ini telah dipublikasikan di koran Lombok Post 23-24 Nopember 2011)

Perubahan iklim global mengancam ketahanan kawasan pesisir terhadap erosi pantai. Peningkatan paras muka air laut yang sangat cepat, peningkatan intensitas dan frekuensi badai, dan peningkatan frekuensi kematian masal karang; ketiganya secara sinergis akan mengakibatkan erosi pantai. Pasir pantai akan tergerus hingga banyak lahan pesisir akan menjadi laut, terutama di ribuan pulau-pulau mikro di Indonesia. Pengeboman ikan menambah kerentanan kawasan pesisir dari ancaman erosi pantai yang terkait perubahan iklim global. Kita tidak dapat menghilangkan ancaman perubahan iklim global, tetapi dapat meningkatkan ketahanan (resistensi) dan kekuatan pemulihan (resiliensi) ekosistem pesisir. Pengalaman di Teluk Ekas dapat menjadi salah satu kajian bagaimana partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya perikanan dapat mengurangi ancaman dampak perubahan iklim global.
Teluk Ekas di antara dua kabupaten
Teluk Ekas terletak di antara Kabupaten Lombok Timur dan Lombok Tengah. Teluk tersebut dikelilingi oleh 6 desa dari 2 kecamatan. Desa Awang dan Desa Bile Lando (Kecamatan Praya Timur, Kabupaten Lombok Tengah), Desa Batunampar, Desa Sukaraja, Desa Jerowaru, dan Desa Pemongkong (Kecamatan Jerowaru, Kabupaten Lombok Timur). Banyaknya penduduk yang menghuni desa di sekitar teluk menunjukkan tingginya potensi sumberdaya di dalam teluk, tingginya ketergantungan masyarakat terhadap sumberdaya di teluk, dan banyaknya calon korban perubahan iklim. Read more…

CIGUATERA, KERACUNAN IKAN LAUT

October 24, 2011 5 comments

Imam Bachtiar
Ketua Pusat Penelitian Pesisir dan Laut (P3L) Universitas Mataram

Dipubikasikan di Lombok Post, Sabtu, 3 Pebruari 2007, halaman 14, OPINI

Keracunan akibat makan ikan laut kadang muncul di koran Lombok Post ini, salah satunya diberitakan pada hari Senin 15 Januari 2006 yang lalu. Sebagian korban bahkan meninggal dunia, dengan puluhan orang harus dirawat. Tetapi penjelasan tentang keracunan ikan ini masih sangat jauh dari cukup untuk dapat dijadikan pelajaran oleh masyarakat, agar dapat menghindarinya di kemudian hari. Tulisan ini dimaksudkan untuk menambah penjelasan yang lebih rinci tentang keracunan akibat mengkonsumsi ikan yang secara ilmiah disebut dengan ciguatera (baca: siguatera).
Ciguatera merupakan kondisi keracunan pada manusia yang diakibatkan oleh konsumsi
hewan laut (ikan). Penyakit ini telah dikenal sejak berabad-abad yang lalu. Ciguatera telah sering terjadi di kawasan tropis dan sub-tropis Samudra Pasifik dan Samudra Hindia. Indonesia yang terletak di antara kedua samudra tersebut merupakan salah satu kawasan yang banyak terjadi ciguatera. Setiap tahun diperkirakan 10.000-50.000 orang mengalami ciguatera di seluruh dunia. Penyebab utama ciguatera adalah makanan laut dari ikan bersirip (finfish). Read more…

KEMATIAN MASAL IKAN DI LAUT

October 24, 2011 Leave a comment

Imam Bachtiar
Pusat Penelitian Pesisir dan Laut, Universitas Mataram

Dipublikasi di Bali Post, Senin, 5 Pebruari 2007, halaman 7, OPINI

Pada minggu lalu dilaporkan terjadinya terjadinya kematan masal ikan laut di kawasan perairan Tabanan. Ada dugaan bahwa kematian masal ikan laut tersebut akibat terjadinya pencemaran. Pencemaran apakah yang dapat membunuh ikan? Pada umumnya kematian masal ikan di laut disebabkan oleh perubahan alam, misalnya penyakit, bakteri dan protozoa, penurunan kualitas air, kenaikan suhu air, serta perubahan salinitas akibat hujan sangat lebat. Kebanyakan kematian ikan terjadi ketika oksigen terlarut (DO, dissolved oxygen) konsentrasinya menurun hingga ke tingkat yang mematikan. Penurunan DO seperti ini dapat terjadi karena pembusukan bahan organik.
Pembusukan bahan organik di laut dapat berasal dari biomasa alga. Banyaknya nutrien di laut akibat pupuk yang terbawa banjir akan menyebabkan suatu ledakan populasi alga (algal bloom). Ketika biomasa alga tersebut membusuk banyak menyerap oksigen di dalam air. Hal ini membuat DO menurun ke tingkat yang sangat rendah terjadi kondisi hipoksia (kurang oksigen) dan anoksia (tanpa oksigen) sehingga biota anaerobik mengambil alih proses pembusukan bahan organik. Pembusukan secara anaerobik tersebut menghasilkan gas-gas hidrogen sulfida dan amonia yang bersifat toksik (racun) bagi ikan dan organisme lainnya. Kurangnya oksigen dan meningkatnya gas beracun membuat ikan mati secara masal. Read more…

REPRODUKSI DAN REKRUITMEN KARANG SCLERACTINIA: KAJIAN PUSTAKA

April 15, 2010 2 comments

Imam Bachtiar
Pusat Penelitian Pesisir dan Laut (P3L), Universitas Mataram,
Email: bachtiar.coral@gmail.com

Sebagian dari tulisan ini dipublikasikan di: Bachtiar, I. (2003). Reproduksi seksual karang scleractinia: telaah pustaka (Reproduction of scleractinian corals: a review). Biota 8(3):131-134.

1. Pendahuluan

Terumbu karang merupakan ekosistem laut yang sangat penting di Indonesia, seperti pentingnya hutan tropis. Pada saat ini laju perusakan terumbu karang jauh di atas laju pemulihannya secara alami, maka rehabilitasi terumbu karang sudah merupakan kebutuhan yang sangat mendesak, seperti yang terjadi pada reboisasi hutan. Karang scleractinia, atau karang batu atau karang hermatipik, merupakan komponen terumbu karang yang paling penting. Karena itu, di dalam upaya rehabilitasi terumbu karang, pengetahuan tentang reproduksi dan rekruitmen karang scleractinia merupakan dua pengetahuan dasar yang sangat penting.

Reproduksi karang scleractinia, selanjutnya secara ringkas disebut repruduksi karang, merupakan salah satu topik dari biologi laut yang sangat kurang dipahami, terutama di Indonesia. Hal ini disebabkan sebagian karena kurangnya penelitian tentang reproduksi karang, sangat sedikitnya jurnal biologi laut yang tersedia, serta kemampuan Bahasa Inggris mahasiswa dan ilmuwan Indonesia yang kurang. Read more…

KARANG ATAUKAH TERUMBU KARANG?

December 21, 2009 12 comments

Hingga saat ini, banyak akademisi di Indonesia yang menggunakan istilah karang dan terumbu karang secara salah. Dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya, memang negara Indonesia termasuk yang ketinggalan dalam penelitian dan publikasi tentang karang dan terumbu karang. Satu-satunya buku tentang karang di Indonesia yang sudah lama terbit adalah Coral of Batavia yang diterbitkan pada jaman Belanda. Sedangkan di negara ASEAN lainnya, misalnya Singapore, Thailand, Malaysia dan Phillipines, mareka punya buku tentang karang di negara mareka masing-masing sejak decade 1980-an. Buku tentang karang di Indonesia baru diterbitkan pada tahun 1996 yang ditulis oleh Dr. Suharsono. Read more…

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.