Home > terumbu karang > MENINGKATKAN RESISTENSI DAN RESILIENSI EKOSISTEM TERUMBU KARANG DARI GANGGUAN PEMUCATAN KARANG

MENINGKATKAN RESISTENSI DAN RESILIENSI EKOSISTEM TERUMBU KARANG DARI GANGGUAN PEMUCATAN KARANG


Ditulis oleh Imam Bachtiar

Pusat Penelitian Pesisir dan Laut, Universitas Mataram

Email bachtiar.coral@gmail.com

1. PENDAHULUAN

Pemanasan global (global warming) membawa ancaman yang serius terhadap kelestarian seluruh ekosistem yang ada di muka bumi, termasuk terumbu karang. Fenomena yang juga disebut sebagai pergeseran iklim global (global climate change) tersebut diduga merupakan dampak dari efek rumah kaca yang dibawa oleh kelebihan CO2 (karbondioksida) dan gas-gas rumah kaca lainnya di atmosfir. Pada ekosistem terumbu karang pemanasan global tersebut diduga telah menyebabkan lebih sering munculnya pemucatan karang (coral bleaching) dalam tiga dekade terakhir. Pemucatan karang adalah terputusnya hubungan simbiotik antara zooxanthellae dengan karang yang menjadi inangnya (Brown 1997). Di masa depan, karang diduga akan lebih sering mengalami kerusakan akibat pemanasan global.

Pemanasan global berpotensi merusak terumbu karang yang memiliki nilai ekologi dan ekonomi sangat penting bagi Indonesia. Secara gobal terumbu karang dapat menyediakan barang dan jasa sekitar USD 376 milyar per tahun atau sekitar USD 6075/ha/tahun (Edwards and Gomez 2007). Di Filipina yang banyak memiliki terumbu karang yang rusak mendapatkan barang dan jasa dari terumbu karang sebesar USD 1,35 milyar/tahun secara nasional. Dampak pemanasan global pada terumbu karang tidak hanya mengubah lingkungan karang sehingga menjadi tidak dapat dihuni, tetapi juga mengubah metabolisme karang sehingga karang lebih rapuh, kehilangan resistensi dan resiliensi.

 Emisi gas CO2 yang merupakan penyebab utama pemanasan global tersebut tidaklah mudah untuk diturunkan karena masalah politik dan ekonomi. Hal ini menyebabkan ancaman pemanasan lobal terhadap kelestarian terumbu karang semakin hari semakin nyata dan semakin dekat. Makalah singkat ini dimaksudkan untuk menyediakan informasi ringkas tentang pengetahuan kita yang mutakhir mengenai hubungan antara pemanasan global dengan pemucatan karang.

<p

2. PEMUCATAN KARANG (CORAL BLEACHING)

Pemanasan global telah meningkatkan suhu permukaan laut (SST, sea surface temperature) dalam satu abad terakhir. Di Phuket, Thailand, berdasarkan permodelan data tahun 1981 hingga 1999, diprediksi terjadi peningkatan suhu permukaan laut sebesar 2,30oC dalam 100 tahun mendatang (Hoegh-Guldberg 1999). Peningkatan suhu permukaan laut di kawasan tropis the Great Barrier Reef, Australia, lebih tinggi lagi hingga 2,59oC. Peningkatan suhu permukaan laut tersebut telah menempatkan karang pada kondisi lingkungan yang sangat kritis.

Pada saat ini, suhu lingkungan tempat tumbuhnya karang sudah mendekati ambang batas maksimum toleransinya. Fluktuasi suhu permukaan laut yang pada abad sebelumnya masih selalu di bawah batas ambang toleransi suhu karang, sekarang akan lebih sering melebihi batas ambang toleransinya. Kenaikan suhu satu atau dua derajad di atas suhu rata-rata, selama sebulan, sudah cukup untuk menyebabkan karang menderita pemucatan (Goreau and Hayes 2005). Sedangkan Hoegh-Guldberg (1999) melaporkan bahwa pemucatan karang (coral beaching) terjadi jika suhu air laut meningkat satu derajad di atas suhu maksimum tahunan. Pemucatan karang di Samudra Pasifik Timur pada tahun 1997/1998 terjadi ketika suhu permukaan laut antara 30-32oC (Glyn et al. 2001, Vargas-Angel et al. 2001). Berkelmans and Willis (1999) mengukur suhu ambang batas pemucatan karang 50% dalam 5 hari. Mereka menemukan bahwa Acropora formosa memiliki ambang batas 31-32oC, atau hanya 2-3oC lebih tinggi dari suhu permukaan laut pada musim panas.  

Perubahan iklim gobal juga akan meningkatkan frekuensi terjadinya pemucatan karang. Pemucatan karang baru menjadi fenomena yang menarik perhatian peneliti sejak tahun 1984 (Brown 1997). Pemucatan karang telah terjadi berulang-ulang dan merupakan siklus. Di Indonesia, pemucatan karang yang bersifat nasional dilaporkan terjadi pada tahun 1983 dan 1997/98. Pemucatan karang tahun 1997/98 merupakan bencana terumbu karang yang terbesar, yang merusak sekitar 18% dari luas karang dunia (Hughes et al. 2007). Di kawasan Asia Tenggara dan the Great Barrier Reefs, pemucatan karang diperkirakan akan terjadi setiap tahun pada tahun 2030, jika tidak ada langkah-langkah efektif untuk mengurangi emisi gas-gas rumah kaca (Hoegh-Guldberg 1999). Komunitas terumbu karang yang pada awal dekade 1990-an dianggap sangat tinggi resistensi dan resiliensinya, sekarang sudah semakin diragukan (Hughes et al 2007).

Dalam kajiannya, Brown (1997) membuat daftar faktor-faktor penyebab pemucatan karang. Faktor-faktor tersebut meliputi: kenaikan suhu air laut, penurunan suhu air laut, radiasi sinar matahari (termasuk sinar ultraviolet dan PAR), kombinasi antara kenaikan suhu dan radiasi sinar matahari, penurunan salinitas dan infeksi bakteri. Perubahan salinitas yang drastis dan pendedahan terhadap logam tertentu atau bahan beracun juga dapat menyebabkan pemucatan karang (Hoegh-Guldberg 1999). Berkelmans (2002) melaporkan bahwa dari empat stressor utama yang dapat menyebabkan pemucatan karang selama 12 tahun di the Great Barrier Reef, suhu permukaan laut (sea surface temperature, SST) merupakan faktor penduga (peramal) terjadinya pemucatan karang yang terbaik.

Radiasi sinar matahari (UV dan PAR) juga secara sinergis menyebabkan karang lebih mudah menderita pemucatan melalui pembentukan oksigen radikal. Karang yang terdedah pada radiasi sinar UV berlebihan mengalami pemucatan sebelum suhunya cukup panas untuk menyebabkan pemucatan karang (Goreau and Hayes 2005). Karang yang sedang mengalami stress kenaikan suhu air sangat sensitif terhadap radiasi sinar matahari.

Ada tiga mekanisme yang menyebabkan berkurangnya zooxanthellae di dalam jaringan karang. Pemucatan karang dapat terjadi melalui : degradasi zooxanthella in situ, pengeluaran zooxanthellae secara exocytosis, dan pengelupasan jaringan endoderm yang berisi zooxanthellae (Brown 1977). Ketiga macam mekanisme tersebut secara berurutan membawa dampak yang semakin buruk, bahkan berujung pada kematian karang secara masal. Pemucatan karang yang terjadi dalam waktu lama akan menyebabkan karang mati kelaparan, karena sekitar 70% kebutuhan energi karang berasal dari alga zooxanthellae.

Karang yang telah mengalami pemucatan dapat tumbuh normal kembali setelah penyebabnya dihilangkan. Zooxanthellae yang dilepaskan ke dalam air dapat kembali lagi ke jaringan karang. Buddemeier and Fautin (1993) mengklaim bahwa pemucatan karang juga dapat merupakan sarana adaptasi karang untuk berganti galur zooxanthelae yang lebih sesuai dengan suhu lingkungan sekarang ini. Karang yang telah mengalami pemucatan lebih mampu bertahan pada kejadian pemucatan berikutnya. Brown (2002b) melaporkan bahwa karang Goniastrea aspera yang telah mengalami pemucatan lebih tahan terhadap kenaikan suhu air laut dibandingkan dengan yang belum mengalami pemucatan.

Tetapi jika pemucatan berlangsung lama atau bersifat akut, maka karang akan mati secara masal dan kerangkanya yang awalnya putih segera berubah redup akibat alga yang tumbuh di karang mati tersebut. Pemucatan karang yang terjadi pada tahun 1998 bersifat letal dan menyebabkan kematian masal karang secara besar-besaran. Kematian masal karang diperkirakan sekitar 90% di seluruh Samudera Hindia (Goreau et al. 2000). Di Indonesia perkiraan angka kematian yang sama juga dilaporkan di Selat Lombok bagian timur (Bachtiar 2003).

Pemulihan karang dari pemucatan sangat bervariasi. Di Thailand, pemulihan karang dari pemucatan tahun 1991 lebih lambat (4 bulan sejak memucat) dibandingkan pada pemucatan 1995 (2 bulan) (Brown 1997). Hal ini disebabkan masih tingginya suhu pada bulan Juni 1991 dan adanya pengalaman (aklimasi) pada pemucatan tahun 1995. Pemulihan karang tersebut adalah dalam kasus pemucatan yang tidak bersifat letal.

Pada kasus pemucatan karang yang bersifat letal, pemulihan karang akan berlangsung lebih lambat. Ketika terjadi kematian masal, pada sebagian koloni karang bercabang (Acroporidae) masih ada bagian jaringan yang masih hidup beberapa sentimeter pada ujung cabang. Sisa jaringan ini memiliki peran yang sangat besar dalam rekolonisasi karang. Di Palau, laju pemulihan tutupan karang sekitar 3,0% sampai 6,1% per tahun, lima tahun setelah terjadinya pemucatan karang (Golbuu et al. 2007). Walaupun sudah ada rekruitmen karang dari larva, tetapi diduga pemulihan karang terutama melalui pertumbuhan vegtatif dari sisa-sisa jaringan karang.

 

3. RESISTENSI DAN RESILIENSI TERUMBU KARANG

Pemanasan global merupakan ancaman terbesar kelestarian terumbu karang pada abad mendatang. Dampak pemanasan global tidak bersifat selektif, sehingga dapat merusak terumbu karang di wilayah konservasi yang dikelola dengan sangat baik, seperti di the Great Barrier Reefs, maupun di wilayah konservasi yang dikelola di atas kertas saja, seperti di Taka Bone Rate. Karena itu, pengelolaan terumbu karang harus memasukkan antisipasi terhadap pemucatan karang, karena terumbu karang yang sudah kita kelola dengan dana milyaran rupiah dapat mengalami kematian masal dalam beberapa bulan akibat pemucatan karang.

Antisipasi tersebut hendaknya dapat meningkatkan resistensi dan resiliensi terumbu karang. Resistensi adalah ketahanan suatu komunitas terhadap gangguan, misalnya kenaikan suhu air laut. Sedangkan resiliensi merupakan kemampuan komunitas untuk  memelihara, melakukan reorganisasi dan pembentukan kembali komunitas asal setelah mengalami gangguan. Karena komunitas karang merupakan spesies kunci (keystone species) dari ekosistem terumbu karang, maka resistensi dan resiliensi komunitas karang perlu mendapat prioritas utama dalam pengelolaan terumbu karang.

                Hasil sejumlah penelitian menunjukkan bahwa resistensi komunitas karang terhadap kenaikan suhu permukaan laut dipengaruhi oleh galur zooxanthellae yang bersimbiosis dengan karang.  Ada empat macam galur zooxanthellae: A, B, C dan D. Karang yang bersimbion dengan zooxanthellae galur D lebih tahan terhadap pemucatan (Glyn et al. 2001). Jenis (spesies) karang tertentu juga dilaporkan tahan terhadap kemucatan. Karang Porites lobata, Pavona gigantea dan P. clavus dilaporkan tidak mengalami perubahan kelimpahan setelah peristiwa pemucatan karang tahun 1997/98 di Galapagos, Colombia, Panama, Ecuador dan daerah Pasific Timur lainnya (Feingold et al. 2001, Vargas-Angel et al 2001, Glyn et al. 2001, Hueerkamp et al. 2001).

Karang yang sudah terbiasa dengan suhu tinggi juga lebih tahan pemucatan dibandingkan yang terbiasa hidup di suhu rendah. Setelah dipelihara selama sebulan dalam suhu 30.45oC, karang P. lobata yang dari daerah non-upwelling dapat pulih dalam waktu sebulan (D’Cruz et al. 2001). Sedangkan karang P. lobata yang dari daerah up-welling memucat dan sebagian mulai mati pada hari ke-15 pendedahan suhu tinggi tersebut. Hasil ini menunjukkan bahwa aklimasi karang terhadap suhu tinggi meningkatkan resistensi terhadap kenaikan suhu permukaan laut. Akan tetapi masih belum diklarifikasi apakah aklimasi tersebut melibatkan pergantian galur zooxanthellae menjadi didominasi galur D yang tahan panas.

Resistensi karang terhadap pemucatan dari kenaikan suhu permukaan laut dapat ditingkatkan dengan teknologi biorock. Karang yang ditransplantasikan pada struktur biorock memiliki resistensi yang lebih tinggi. Di Maladewa (Maldive), ketika terjadi pemucatan karang yang membunuh 90-95% karang, pada tahun 1997/98, karang di struktur biorock menunjukkan kelulushidupan 15-50 kali lebih baik (Goreau and Hilbertz 2005). Belum diketahui apakah resistensi karang di biorock tersebut juga melibatkan zooxanthellae galur D.

Resiliensi komunitas karang banyak dilaporkan tergantung pada keanekaragaman komunitas (Grimsditch and Salm 2006), terutama kelimpahan biota herbivor yang merumput alga (Hughes et al. 2006). Komunitas alga merupakan kompetitor utama dari komunitas karang. Ketika terjadi gangguan yang banyak mematikan karang, maka ruang yang kosong tersebut segera dihuni oleh alga dalam beberapa hari. Bahkan pada terumbu karang yang tidak mengalami gangguan, jika ikan herbivor dihalangi merumput di suatu terumbu karang dengan suatu kurungan, komunitas di terumbu karang tersebut secara perlahan didominasi oleh alga (Hughes et al. 2007). Pergantian dominansi komunitas dari karang ke alga ini sulit kembali lagi ke karang jika kelimpahan hewan herbivor (grazer, perumput) rendah, karena alga tumbuh jauh lebih cepat daripada karang.

Kehadiran ikan atau biota lain pemakan alga merupakan salah satu faktor kunci kembalinya komunitas karang menggantikan komunitas alga. Ledlie et al (2007) melaporkan bahwa di Cousin Island Marine Protected Area (Seychele) terjadi perubahan komunitas (phase shift) dari komunitas karang ke komunitas alga, pasca pemucatan karang 1997. Ditemukan bahwa peningkatan biomassa alga tidak diikuti oleh peningkatan biomassa ikan herbivor, sehingga dominansi alga tidak dapat dihindarkan. Diduga hilangnya kompleksitas habitat menyebabkan rendahnya kelimpahan ikan herbivor, sehingga komunitas karang diperkirakan tidak dapat kembali lagi secara alami.

 

4. KEBUTUHAN PENELITIAN

Penelitian tentang resistensi dan resiliensi komunitas karang sangat penting untuk menjamin bahwa terumbu karang yang merupakan aset ekologi dan ekonomi bangsa Indonesia masih dapat diselamatkan dari gangguan perubahan iklim global. Pada saat ini masih banyak kesenjangan antara pengetahuan kita dengan kebutuhan informasi untuk pengelolaan. Karena itu diperlukan suatu penelitian yang dapat menjawab masalah-masalah berikut ini.

·         Zooxanthellae galur D merupakan yang paling tahan terhadap pemucatan karang (Glyn et al. 2001). Galur yang manakah yang paling banyak bersimbiosis dengan karang? Karang apakah yang paling banyak bersimbiosis dengan zooxanthellae galur D? Apakah semua karang yang dapat pulih kembali dari pemucatan tahun 1997/98 mempunyai galur D? Apakah semua karang yang baru tumbuh setelah peristiwa pemucatan karang berlalu (setelah tahun 2000) mempunyai simbion zooxanthellae galur D sebagai adaptasinya?

·         Buddemeir and Fautin (1993) membuat hipotesis bahwa pemucatan karang merupakan strategi adaptif karang untuk berganti galur zooxanthellae sebagai simbionnya. Jika hipotesis ini benar, maka setiap kali karang mengalami pemucatan (mengeluarkan zooxanthellae), ia tidak mau lagi mengambil galur zooxanthellae yang sama dalam pemulihannya. Apakah ini berlaku pada karang di dalam percobaan laboratorium dan juga di lingkungan alaminya?

·         Walaupun buktinya belum kuat, banyak diyakini semakin tinggi keanekaragaman biota semakin tinggi pula relisiensi komunitas (Grimsditch and Salm 2006, Peterson et al 1998). Apakah hal ini berlaku di terumbu karang Indonesia, masih perlu dibuktikan. Bagaimanakah hubungan antara keanekaragaman benthos dan ikan dengan kelimpahan rekruitmen karang?

·         Hewan herbivor juga banyak dilaporkan merupakan faktor penting resiliensi terumbu karang (Hughes et al. 2006, 2007). Herbivor apakah yang menjadi spesies kunci (keystone species) pemulihan komunitas karang pasca pemucatan? Apakah spesies kunci tersebut bervariasi antar lokasi? Spesies kunci tersebut harus mendapatkan prioritas pengawetan (preservasi) dalam pengelolaan terumbu karang.

·         Resiliensi komunitas juga tergantung pada hewan-hewan yang bergerak antar ekosistem (mobile link) sebagai memori eksternal komunitas untuk kembali pada kondisi stabil setelah mengalami gangguan (Lundberg and Moberg 2003). Mobile link merupakan sarana untuk memulihkan komunitas yang menderita gangguan melalui suplai larva, makanan, pesaing dan pemangsa. Hewan mobile link di terumbu karang belum diketahui secara pasti sehingga perlu penelitian untuk mengidentifikasi hewan-hewan yang manakah yang menjadi mobile link di terumbu karang?

Penelitian pertama dan kedua merupakan penelitian untuk memahami resistensi karang terhadap pemucatan. Sedangkan dua penelitian terakhir merupakan penelitian untuk memahami resiliensi komunitas karang. Tanpa pemahaman yang benar tentang resistensi dan resiliensi karang terhadap pemucatan, yang sering bersifat letal, upaya pengelolaan terumbu karang dalam ketidakpastian. Benarkah dana dan tenaga yang kita curahkan untuk pengelolaan tersebut tidak sia-sia terhapus oleh pemucatan karang yang akan datang lebih sering lagi?

 

DAFTAR PUSTAKA

Bachtiar I. 2003. Status terumbu karang di Propinsi Nusa Tenggara Barat. Jurnal Biologi Tropis 5(1): 1-9.

Berkelmans R. 2002. Time-integrated thermal bleaching thresholds of reefs and their variation on the Great Barrier Reefs. Marine Ecology Progress Series 229: 73–82.

Berkelmans, R and Willis B. 1999. Seasonal and local spatial patterns in the upper thermal limits of corals on the inshore Central Great Barrier Reef. Coral Reefs 18: 219-228

Brown BE. 1997. Coral bleaching: causes and consequences. Coral Reefs 16, Supplement: S129138

Brown BE, Clarke KR and Warwick RM. 2002a. Serial patterns of biodiversity change in corals across shallow reef flats in Ko Phuket, Thailand, due to the effects of local (sedimentation) and regional (climatic) perturbations. Marine Biology 141: 21–29

Brown BE, Dunne RP, Goodson MS and Douglas AE. 2002b. Experience shapes the susceptibility of a reef coral to bleaching. Coral Reefs 21: 119–126.

Buddemeier RW and Fautin DG. 1993. Coral bleaching as an adaptive mechanism- a testable hypothsis. Bioscience 43: 320-326.

D’Cruz L, Mate JL and Oke JE. 2001. Bleaching and recovery of five eastern Pacific corals in an El Nino-related temperature experiment. Bulletin of Marine Science 69(1): 23-214.

Edwards A and Gomez E. 2007. Reef Restoration Concepts and Guidelines: making sensible management choices in the face of uncertainty. Coral Reef Targeted Research & Capacity Building for Management Programme: St Lucia, Australia. Pp. 38.

Feingold JS. 2001. Coral bleaching and mortality in Panama and Ecuador during the 1997-1998 El Nino Southern Oscillation event: spatial/temporal patterns and comparisons with the 1982-1983 event. Bulletin of Marine Science 69(1): 61-77.

Glyn PW, Mate JL, Baker AC and Calderon MO. 2001. Coral and coral reef responses to the 1997-1998 El Nino event on the Pacific coast of Colombia.  Bulletin of Marine Science 69(1): 79-109.

Golbuu Y, Victor S, Penland L, Idip Jr D, Emaurois C, Okaji K, Yukihira H, Iwase A and van Woesik R. 2007. Palau’s coral reef show differential habitat recovery following the 198 bleaching event. Coral Reef 26: 319-332.

Goreau TJ and Hayes RL. 2005. Monitoring and calibrating sea surface temperature anomalies with satellite and in-situ data to study of weather extremes and climate changes on coral reefs. World Resource Review 17(2): 242-252.

Goreau TJ and Hilbertz W. 2005. Marine ecosystem restoration: costs benefits for coral reefs. World Resource Review 17(3): 375-409.

Goreau TJ, Hayes RL and McClanahan T. 2000. Conservation of coral reefs after the 1998 global bleaching event. Conservation Biology 14 (1): 5-15.

Grimsditch GD and Salm RV. 2006. Coral Reef Resilience and Resistance to Bleaching. The World Conservation Union: Gland, Switzerland. Pp. 52.

Hoegh-Guldberg O. 1999. Climate Change, Coral Bleaching and the Future of the World’s Coral. Greenpeace. Pp. 28.

Hueerkamp C, Glyn PW, D’Cruz L, Mate JL and Colley S. 2001. Coral bleaching and mortality in the Mexican Pacific during the 1997-1998 El Nino and prediction from a remote sensing approach. Bulletin of Marine Science 69(1): 215-236.

Hughes TP, Bellwood DR, Folke CS, McCook LJ and Pandolfi JM. 2006. No-take areas, herbivory and coral reef resilience. TRENDS in Ecology and Evolution 22: 1-3.

Hughes TP, Rodrigues MJ, Bellwood DR, Ceccarelli D, Hoegh-Guldberg O, McCook L, Moltschaniwskyj N, Pratchett MS, Steneck RS and Willis B. 2007. Phase shifts, herbivory, and the resilience of coral reefs to climate change. Current Biology 17: 1–6.

Kleypas JA, Buddemeier RW, Archer D, Gattuso J-P, Langdon C and Opdyke BN. 1999. Geochemical consequences of increased atmospheric carbon dioxide on coral reefs. Science 284: 118-120.

Ledlie MH,  Graham NAJ, Bythell JC, Wilson SK, Jennings S, Polunin  NVC and Hardcastle J. 2007. Phase shifts and the role of herbivory in the resilience of coral reefs. Coral Reefs 26: 641–653.

Lundberg J and Moberg F. 2003. Mobile Link Organisms and Ecosystem Functioning: Implications for Ecosystem Resilience and Management. Ecosystems 6: 87–98.

Peterson G, Allen CR and Holling CS. 1998. Ecological resilience, biodiversity and scale. Ecosystems 1: 6–18.

Vargas-Angel B, Zapata FA, Hernandes H and Jemenez JM. 2001. Change in reef community structure after fifteen years of natural disturbance in the eastern Pacific (Costa Rica). Bulletin of Marine Science 69(1): 111-132.

 

  1. April 30, 2008 at 3:34 am

    Nice article ! Thanks for sharing

  2. Corn
    February 6, 2009 at 3:08 am

    great..really inspiring!! kapan2 konsultasi yah..

  3. nurul
    February 11, 2009 at 4:55 am

    nice artikel…. but gimana efeknya terhadap kegiatan perikanan misalnya efek terhadap jumlah ikan, hasil tangkapan, sosio economicnya??? seandainya … karang bleaching tapi nggak membawa efek pada perikanan..kan biasa pulih sendiri ..

    • ibachtiar
      February 13, 2009 at 2:28 am

      Pemutihan karang (coral bleaching) jelas berpengaruh terhadap perikanan tangkap. Kelimpahan ikan umumnya menurun jika tutupan karang berkurang, dan bleaching mengurangi tutupan karang. Ikan herbivora semestinya bertambah karena bleaching meningkatkan tutupan turf- atau makro-algae, tetapi bukti inipun masih belum banyak (kuat). Jika kelimpahan ikan herbivora banyak maka pemulihan karang diyakini lebih cepat.

  4. masudin
    May 14, 2009 at 4:37 am

    menarik sekali artikelnya…, apa bisa resilliensi terumbu karang bisa ditngkatkan dengan program mitigasi yang dikolaborasi dengan tolak ukur faktor-faktor penyebab degradasi terumbu karang

    thanks

  5. January 24, 2011 at 7:19 am

    asslamu’alaikum pa imam, nice artikel..
    kehadiran ikan herbivor sangat menentukan resiliensi karang, namun terkadang kelimpahan ikan herbivor tidak selamanya ditentukan oleh tingginya kelimpahan alga atau tingginya tutupan terumbu karang, dan hal ini yang saya temukan di Teluk Kotania. Setelah saya telusuri dengan mengkaji dinamika perairannya didapatkan bahwa faktor arus dan sebaran nutrien ternyata sangat berperan dalam penyebaran kelimpahan ikan karang dan ikan herbivor. mohon saran dan masukannya…

    • January 25, 2011 at 4:07 am

      Thanks coment-nya. Bagaimana jika kita diskusikan di milisnya coremap saja, biar dapat diikuti oleh banyak peserta?
      Mestinya kelimpahan ikan herbivor (grazer) tidak tergantung pada arus, melainkan tergantung pada ketersediaan makanan (makroalgae, turf algae) dan kompleksitas habitat yang melindunginya dari piscivor. Kita perlu melihat datanya bersama-sama. Have fun.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: