Home > coastal management, coral reef, ekosistem pesisir, terumbu karang > KEMATIAN MASAL IKAN DI LAUT

KEMATIAN MASAL IKAN DI LAUT


Imam Bachtiar
Pusat Penelitian Pesisir dan Laut, Universitas Mataram

Dipublikasi di Bali Post, Senin, 5 Pebruari 2007, halaman 7, OPINI

Pada minggu lalu dilaporkan terjadinya terjadinya kematan masal ikan laut di kawasan perairan Tabanan. Ada dugaan bahwa kematian masal ikan laut tersebut akibat terjadinya pencemaran. Pencemaran apakah yang dapat membunuh ikan? Pada umumnya kematian masal ikan di laut disebabkan oleh perubahan alam, misalnya penyakit, bakteri dan protozoa, penurunan kualitas air, kenaikan suhu air, serta perubahan salinitas akibat hujan sangat lebat. Kebanyakan kematian ikan terjadi ketika oksigen terlarut (DO, dissolved oxygen) konsentrasinya menurun hingga ke tingkat yang mematikan. Penurunan DO seperti ini dapat terjadi karena pembusukan bahan organik.
Pembusukan bahan organik di laut dapat berasal dari biomasa alga. Banyaknya nutrien di laut akibat pupuk yang terbawa banjir akan menyebabkan suatu ledakan populasi alga (algal bloom). Ketika biomasa alga tersebut membusuk banyak menyerap oksigen di dalam air. Hal ini membuat DO menurun ke tingkat yang sangat rendah terjadi kondisi hipoksia (kurang oksigen) dan anoksia (tanpa oksigen) sehingga biota anaerobik mengambil alih proses pembusukan bahan organik. Pembusukan secara anaerobik tersebut menghasilkan gas-gas hidrogen sulfida dan amonia yang bersifat toksik (racun) bagi ikan dan organisme lainnya. Kurangnya oksigen dan meningkatnya gas beracun membuat ikan mati secara masal.
Pengayaan nutrien (posfat dan nitrat) di laut juga dapat terjadi dari pencemaran di luar sektor petanian. Pengolahan limbah kolektif yang dibuang ke laut juga dapat memperkaya nutrisi di laut. Hujan yang turun setelah kemarau panjang juga dapat membawa banyak bahan yang dapat menyebabkan penurunan oksigen di dalam air. Penggunaan pestisida yang berlebihan dapat terbawa ke laut dan menyebabkan kematian masal ikan. Demikian pula banjir dari tanah yang banyak mengandung asam sulfat. Konsentrasi pH yang rendah di perairan yang relatif tertutup dapat mematikan ikan.
Kematian masal ikan juga dapat disebabkan oleh ledakan populasi (outbreak) dari alga beracun, misalnya Pfiesteria. Ledakan populasi alga beracun ini biasanya demikian besar sehingga laut dapat berwarna kemerahan, yang disebut sebagai pasut merah atau red tide. Alga penghasil racun tersebut merupakan makanan siput. Siput yang telah banyak menimbun racun ini akan mematikan ikan dan burung yang memangsanya. Sejumlah keracunan atau kematian manusia setelah makan ikan juga berkaitan dengan alga beracun dari pasut merah ini.
Diperkirakan sekitar 400 jenis ikan yang dapat membawa racun alga, yang disebut
ciguatoxin, tetapi angka ini dianggap terlalu tinggi (Lehane and Lewis, 2000). Di Tahiti hanya dilaporkan 32 spesies yang mengandung ciguatoxin, di Jepang dilaporkan 10 spesies, sedangkan di Hawaii dilaporkan 16 spesies. Ikan-ikan yang biasanya membawa racun tersebut diantaranya meliputi belut laut (Lycodontis atau Gymnothorax javanicus), tenggiri (Scomberomorus commersoni), kerapu sunu (Plectopormus spp.), barakuda (Sphyraena jelo), kuwe (Caranx spp), dan kakap merah (Lutjanus gibbus). Belut laut dilaporkan merupakan yang paling banyak mengandung racun alga.
Pencemaran minyak dari tanker yang bocor atau pecah juga dapat membunuh ikan
secara masal. Minyak yang menutupi permukaan air akan menghambat masuknya oksigen ke dalam air, sehingga DO akan berkurang banyak. Tetapi penyebab ini akan mudah diketahui karena jejak minyak akan tampak dengan jelas.
Pencemaran logam berat tidak menyebabkan dampak akut berupa kematian ikan. Dampak akut hanya akan terjadi jika dalam konsentrasi yang sangat tinggi (>5 ppm).
Sedangkan pencemaran logam berat dalam konsentrasi tinggi hampir tidak pernah
terjadi, kecuali terjadi kecelakaan kapal pengangkut logam berat. Pecemaran logam
berat dari industri biasanya hanya menyebabkan dampak yang kronis.
Logam Cd merupakan salah satu logam berat yang digunakan untuk uji keracunan (toxicity). Ikan kerapu berukuran 2 cm mempunyai LC50 10,9 mg/liter Cd. Angka tersebut menunjukkan bahwa 50% anak ikan kerapu akan mati jika terdedah 10,9 mg/litter Cd selama 96jam. Konsentrasi Cd setinggi 10,9 ppm di alam sangatlah kecil peluangnya. Baku mutu air laut untuk kawasan konservasi membatasi kandungan logam Cd terlarut sebesar 0,01 ppm. Karena itu, pencemaran logam berat tidak termasuk dalam penyebab kemaian masal ikan laut.
Masyarakat sebaiknya tidak mengkonsumsi ikan yang mati secara masal, kecuali jika
penyebabnya sudah teridentifikasi tidak membahayakan manusia. Ikan yang mati karena pasang merah, akibat makan alga beracun, maka racun ciguatoxin di dalam daging ikan dapat masuk ke dalam tubuh manusia dan menyebabkan keracunan ikan laut yang dikenal dengan istilah ciguatera.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: