Home > coastal management, coral reef, ekosistem pesisir, terumbu karang > Status Hewan Echinodermata di Pulau Lombok

Status Hewan Echinodermata di Pulau Lombok


IMAM BACHTIAR
Jurusan Pendidikan MIPA, FKIP, Universitas Mataram
Pusat Penelitian Pesisir dan Laut, Universitas Mataram

A. Pendahuluan
Komunitas Echinodermata merupakan kelompok hewan-hewan yang sangat penting di dalam ekologi pesisir dan laut. Sebagian kerusakan terumbu karang disebabkan oleh pemangsaan bintang laut dari anggota komunitas Asteroidea. Sebaliknya, pemulihan terumbu karang yang rusak juga sebagian besar tergantung dari peran kamunitas Echinoidea sebagai pemakan makroalgae. Laju erosi kapur di terumbu karang juga banyak ditentukan oleh kelimpahan populasi fauna Echinoidea. Kondisi ekosistem padang lamun juga ditentukan oleh keseimbangan populasi fauna di dalam komunitas Echinodermata.
Komunitas Echinodermata juga merupakan hewan yang penting di dalam pendidikan. Pada umumnya siswa SMA atau mahasiswa lebih banyak belajar tentang hewan-hewan di daratan dan perairan tawar. Sebagian besar buku-buku Biologi juga memberikan contoh kasus di ekosistem daratan dan perairan tawar. Hewan Echinodermata setidaknya mempunyai tiga keunikan yang jarang ditemukan pada filum hewan yang lain. Pertama, semua hewan Echinodermata hanya hidup di perairan laut. Dengan demikian, kelompok hewan Echinodermata lebih banyak mengandung misteri daripada filum hewan lainnya. Kedua, hewan Echinodermata mempunyai bentuk tubuh yang radial simetris, yang banyak berbeda dari hewan daratan dan perairan tawar. Ketiga, ukuran dan warna komunitas Echinodermata sangat menarik untuk dipelajari di dalam mata kuliah Zoologi Invertebrata.
Hewan–hewan anggota Filum Echinodermata dibagi menjadi lima kelas, yaitu Asteroidea (bintang laut), Ophuiroidea (bintang mengular), Echinoidea (landak laut), Holothuroidea (mentimun laut), dan Crinoidea (lilia laut). Semua kelas dari Echinodermata tersebut dapat dijumpai di perairan Pulau Lombok. Hewan-hewan anggota Asteroidea meliputi Linckia laevigata, Protoreaster nodusus, Achantaster plancii, dan Archaster typicus. Anggota Ophiuroidea meliputi Ophiarthrum elegans, Ophiomastrix variabilis, dan Ophiocoma spp. Anggota Echinoidea meliputi Diadema setosum, Echinotrix callamaris, Mespilia globules, Salmacis belli, Tripneustes gratilla, dan Echinometra mathaei. Anggota Holothuroidea di antaranya meliputi Synapta maculata, Holothuria atra, dan Bohadschia marmorata. Contoh-contoh hewan tersebut merupakan hewan yang umum ditemukan di perairan Lombok. Masih ada sejumlah spesies yang ditemukan hanya pada lokasi tertentu saja.

B. Habitat Echinodermata
Hewan Echinodermata dapat dijumpai pada ekosistem padang lamun dan terumbu karang. Ekosistem padang lamun terdapat di daerah intertidal. Di bagian depan dari padang lamun merupakan ekosistem terumbu karang. Ekosistem padang lamun terbentuk di habitat rataan terumbu yang dasarnya berpasir. Ekosistem terumbu karang terbentuk pada terumbu karang yang dasarnya substrat keras dan sedikit sedimen. Padang lamun ditemukan di rataan terumbu (reef flat), sedangkan terumbu karang dapat dijumpai di rataan terumbu, goba (lagoon), gudus (reef crest), dan tubir (reef slope).
Di kedua ekosistem tersebut Echinodermata mempunyai peran ekologis yang sangat beragam. Hewan Echinodermata dapat berperan sebagai grazer (herbivore) atau predator (invertivore). Di Jamaica, peran ekologis landak laut Diadema setosum sangat penting, sehingga kematian massal D. setosum dikaitkan dengan lambatnya pemulihan komunitas karang. Sebaliknya, kematian massal karang di Pulau Menjangan tahun 1997 disebabkan oleh ledakan populasi bintang laut Acanthaster plancii.
Echinodermata herbivora yang mudah ditemukan adalah landak laut Tripneustes gratilla yang menghuni ekosistem padang lamun Pulau Lombok. Landak laut T. gratilla dilaporkan menyukai makan lamun Thalassia hempricii dan Enhalus acoroides di Buton (Kasim 2009), atau lamun Syringodium isoetifolium di Madagaskar (Vaitilingon et al 2003). Di Hawaii, landak laut T. gratilla merupakan herbivore yang memakan makroalgae, terutama bentuk foliose seperti Padina santacrusis (Stimson et al 2007). Landak laut T. gratilla juga merupakan fauna Echinodermata yang paling banyak dikonsumsi masyarakat Pulau Lombok. Sebagian besar T. gratilla mempunyai gonad matang pada saat menjelang bulan purnama atau bulan mati, bertepatan dengan pasut rendah. Masyarakat local banyak yang pergi ke padang lamun (madak, Sasak) untuk menangkap T. gratilla bersamaan dengan fauna Echinoidea lainnya. Gonad dari fauna Echinoidea digunakan sebagai lauk masyarakat pesisir.
Echinodermata predator yang sangat terkenal adalah bintang laut mahkota berduri Acanthaster plancii yang memangsa karang. Pemangsaan karang oleh A. plancii telah menyebabkan kematian massal karang di Kepulauan Seribu dan Pulau Menjangan Hewan Echinodermata herbivora yang paling banyak diteliti adalah landak laut Diadema setosum. Landak laut ini makan microalgae yang tumbuh di permukaan terumbu karang. Ketika memakan algae tersebut, D. setosum juga menggaruk kapur dari terumbu karang sehingga menyebabkan erosi kapur. Jika D. setosum jumlahnya berlebihan dikhawatirkan terjadi defisit sedimentasi kapur sehingga terumbu karang berkurang volumenya. Kehadiran D. setosum juga membawa manfaat, yaitu membuka ruang untuk penempelan larva karang. Lambatnya pemulihan populasi karang setelah adanya gangguan sering dikaitkan dengan rendahnya kelimpahan populasi D. setosum.
Ekosistem padang lamun dapat dijumpai pada hamper semua pulau-pulau mikro di sekitar di Pulau Lombok, dan di teluk-teluk yang terdapat di Pulau Lombok. Padang lamun yang terdapat di teluk-teluk Pulau Lombok mempunyai keanekaragaman vegetasi dan fauna Echinodermata yang lebih tinggi dibandingkan di pulau-pulau mikro. Pada umumnya bentangan padang lamun di pulau-pulau mikro tidak luas. Padang lamun di pulau mikro yang mempunyai bentangan luas dijumpai di Gili Kere dan Gili Air. Walaupun demikian, keanekaragaman spesies vegetasi lamun dan hewan Echinodermata padang lamun Gili Air lebih rendah dibandingkan dengan di Pantai Sira, salah satu teluk terdekatnya di Pulau Lombok.
Ekosistem terumbu karang sebagian besar bersebelahan dengan padang lamun, di perairan Pulau Lombok. Hanya sedikit ekosistem terumbu karang tidak berdampingan dengan ekosistem padang lamun. Keberadaan sedimen di dasar terumbu sangat penting sebagai factor pembatas antara komunitas padang lamun dengan komunitas terumbu karang di rataan terumbu. Pulau-pulau mikro yang memiliki kedua ekosistem tersebut secara berdampingan meliputi Gili Air, Gili Meno, Gili Sulat, Gili Lawang, Gili Kere, Gili Gede, Gili Maringke. Teluk-teluk yang mempunyai kedua ekosistem tersebut meliputi Pantai Sira, Pantai Batukijuk, Pantai Pelangan, Teluk Ekas, Teluk Sepi, Teluk Kuta, Teluk Grupuk, Teluk Seger, Teluk Aan, dan Teluk Jukung (Pantai Pink).
Sebagian terumbu karang yang terdapat di pulau mikro tidak berdampingan dengan padang lamun. Misalnya, di perairan Selat Lombok (Gili Trawangan, Gili Poh, Gili Rengit, Gili Asahan), dan perairan Selat Alas (Gili Bidara, Gili Kondo, Gili Lampu). Teluk yang airnya keruh atau berlumpur, misalnya Teluk Lembar dan Labuhan Lombok, juga tidak dapat ditumbuhi oleh karang sehingga tidak terbentuk ekosistem terumbu karang.
Komunitas Asteroidea ditemukan baik di terumbu karang maupun di padang lamun. Pada ekosistem terumbu karang ada dua spesies dari Asteroidea yang menonjol kelimpahannya yaitu bintang laut Linckia laevigata dan Acanthaster plancii. Bintang laut L. laevigata berperan sebagai invertivora atau pemakan invertebrata, sedangkan A. plancii berperan sebagai corallivora atau pemakan karang di dalam ekosistem terumbu karang. Di padang lamun, bintang laut bertanduk Protoreaster nodusus menjadi bagian dari obyek wisata edukasi untuk siswa dan mahasiswa.
Komunitas Ophiuroidea dapat dijumpai pada laut dangkal yang mempunyai substrat dasar keras maupun substrat dasar berpasir. Bintang mengular dijumpai di substrat dasar keras di Pantai Senggigi. Ketika pasut rendah, bintang mengular tersebut bersembunyi di celah-celah bebatuan dan hanya menampakkan lengannya yang mengular. Di Pantai Seger, bintang mengular ditemukan pada substrat dasar yang berpasir di daerah padang lamun. Di padang lamun Pantai Seger, banyak Ophiuroidea yang berasosiasi dengan algae Halimeda. Di pangkal thallus Halimeda yang melekat di substrat, lebih dari 70% berasosiasi dengan Ophiuroidea. Nama spesies dari hewan Ophiuroidea yang berasosiasi dengan algae Halimeda tersebut belum teridentifikasi, yang kemungkinan besar Ophiartum elegans. Di Pantai Kuta, yang bersebelahan dengan Pantai Seger, dari 40 kuadrat ukuran 20 m2 tidak ditemukan hewan Ophiuroidea sama sekali. Sedikitnya kelimpahan Halimeda mungkin menjadi salah satu penyebab tidak ditemukannya bintang mengular di dalam kuadrat.
Komunitas Echinoidea dan Holothuroidea terdapat di terumbu karang dan padang lamun. Landak laut D. setosum hidup di substrat yang keras di padang lamun atau terumbu karang. Landak laut T. gratilla lebih banyak di padang lamun. Teripang Synapta maculata hanya hidup di padang lamun, sedangkan teripang Holothuria atra hidup baik di padang lamun maupun terumbu karang.
Komunitas Crinoidea lebih banyak yang hidup di terumbu karang. Hewan yang tampak rapuh ini biasanya bersembunyi di antara celah-celah karang bercabang. Crinoidea yang ditemukan di padang lamun juga hidup di koloni karang yang tumbuh berserakan (patchy) di padang lamun.

C. Keanekaragaman Hayati
Indonesia merupakan pusat keanekaragaman hayati biota laut atau marine mega biodiversity. Kekayaan spesies karang, ikan terumbu, ikan pelagis, lamun, mangrove, Crustacea, dan Mollusca di Indonesia adalah yang teringgi di dunia. Kekayaan spesies dari komunitas Echinodermata juga diduga tertinggi di Indonesia. Status Indonesia sebagai pusat keanekaragaman hayati laut masih belum diimbangi dengan jumlah taksonom biota laut, sehingga publikasi spesies baru masih sebagaian besar dilakukan oleh peneliti dari luar Indonesia.
Kekayaan spesies komunitas Echinodermata masih belum jelas di Indonesia. Sepanjang pengetahuan penulis, belum ada publikasi daftar kekayaan spesies komunitas Echinodermata. Publikasi yang tersedia memuat kekayaan spesies dari sebagian kelas ari Echinodermata. Purwati (2005), misalnya, membuat daftar kekayaan spesies teripang (Holothuroidea) di Indonesia sebanyak 26 spesies, dari berbagai literatur yang tersedia. Dari daftar tersebut tampak bahwa Holothuroidea yang tidak mempunyai nilai komersial belum masuk di dalamnya. Hal ini berarti bahwa kekayaan spesies Holothuroidea lebih banyak lagi.
Kekayaan spesies komunitas Echinodermata di dalam publikasi biasanya mengacu pada lokasi. Di Pantai Sira telah dicatat 31-36 spesies Echinodermata yang hidup di padang lamun (Yusuf 1998). Di Pantai Kuta dan Grupuk keanekaragaman spesies Echinodermata dilaporkan sebanyak 45 spesies yang terdiri dari 28 genus (Azis and Sugiarto 1994). Teluk Saleh dilaporkan mempunyai 11 jenis teripang (Yusron 2003), yang mempunyai nilai ekonomis penting. Penggunaan istilah teripang di dalam Yusron tersebut juga belum meliputi fauna Holothuroidea yang tidak dapat dipasarkan, misalnya Synapta maculata. Di tiga lokasi di Sulawesi Utara, Teluk Kwandang, gugusan pulau-pulau kecil dan Sangirtalaud, kekayaan spesies Echinodermata sebanyak 64 spesies (Darsono dan Aziz 2003). Kekayaan spesies tersebut terbagi dalam 18 spesies Asteroidea, 7 spesies Echinoidea, 14 spesies Ophiuroidea, 20 spesies Holothuroidea, dan 4 spesies Crinoidea.
Daftar kekayaan spesies komunitas Echinodermata di perairan selatan Pulau Lombok (Pantai Kuta, Pantai Seger, Pantai Gerupuk) sebagai berikut (Aziz dan Sugiarto 1994).
ASTEROIDEA
Archaster typicus
Culcita novaeguineae
Echinaster luzonicus
Linckia laevigata
Nardoa tuberculata
Pentareaster sp.
P. Alveolatus
Protoreaster lincki
P. nodusus

ECHINOIDEA
Diadema setosum
Echinometra mathaei
Echinotrix calamaris
E. diadema
Echinostrephus molaris
Laganum laganum
Mespilia globules
Temnopleurus toreurnaticus
Tripneustes gratilla

OPHIUROIDEA
Macrophiotrix longipeda
Ophiarachna incrassate
Ophiarachnella gorgiana
O. infernalis
Ophiarthrum pictum
O. elegans
Ophiocoma brevipes
O. pica
O. schoenleini
O. scolopendrina
Ophiomastrix annulosa
Ophiolepsis superba

HOLOTHUROIDEA
Actinopyga lecanora
A. miliaris
Bohadschia graeffei
Holothuria atra
H. coluber
H. hilla
H. pervicaz
H, rigida
H. scabra
Stichopus variegates
Synapta maculata
Synapta sp.

CRINOIDEA
Comanthus parvicirrus
Stephenometra indica

E. Pemanfaatan dan Kelimpahan Echinodermata
Holothuroidea merupakan komunitas yang paling awal dimanfaatkan masyarakat Indonesia. Perdagangan teripang di Makassar, misalnya, telah terjadi sejak tahun 1700-an (Maenez and Ferse 2010) atau bahkan sejak tahun 1600-an (Purwati 2005). Penangkapan teripang di perairan Pulau Lombok masih banyak terjadi secara intensif pada awal dekade 1990-an. Nelayan dari Bajau dan Madura sering datang ke perairan Pulau Lombok menangkap teripang. Pada saat ini, teripang yang mempunyai harga tinggi sudah sulit ditemukan sehingga penangkapan teripang secara komersial hamper tidak ada lagi.
Pemanfaatan komunitas Echinoidea juga telah berlangsung sejak lama walaupun belum diketahui tahunnya dan masih terus berlangsung sampai sekarang. Eksploitasi komunitas Echinoidea umumnya tidak untuk tujuan komersial. Landak laut diambil gonadnya untuk dijadikan lauk dalam skala rumah-tangga. Penangkapan landak laut secara subsisten ini dilakukan pada saat air dangkal, yaitu pasut rendah purnama.
Di Pulau Lombok, tidak ditemukan pemanfaatan komunitas Asteroidea untuk konsumsi, sebagaimana pemanfaatan Holothuroidea dan Echinoidea. Pemanfaatan Asteroidea biasanya bersifat wisata, sebagai oleh-oleh setelah berwisata di pantai yang dekat dengan padang lamun. Pada saat liburan sekolah, banyak siswa berwisata ke pantai-pantai yang mempunyai padang lamun. Pantai Sira sudah lama menjadi tujuan wisata anak sekolah, sejak tahun 1980-an. Pantai Tangsi atau yang lebih dikenal sebagai Pantai Pink merupakan pantai berpadang lamun yang baru terbuka untuk wisata siswa sekolah dalam tiga tahun terakhir. Intensitas pertumbuhan wisata yang sangat pesat di Pantai Tangsi dikhawatirkan mempunyai dampak negative terhadap komunitas Echinodermata. Banyak wisatawan (local) suka membawa bintang laut sebagai oleh-oleh.
Hubungan antara tingkat pemanfaatan ekstraktif komunitas Echinodermata dengan kelimpahannya tidak selalu tampak jelas. Di Pantai Kuta, pengambilan landak laut (Echinotrix calamaris, Diadema setosum, Tripneustes gratilla) seraca rutin berlangsung setiap pasut rendah, atau 2 kali 3 hari setiap bulan. Kelimpahan landak laut tersebut masih mudah ditemukan di padang lamun. Sebaliknya, hewan-hewan Asteroidea yang tidak dikonsumsi oleh masyarakat, lebih sulit ditemukan di lokasi yang sama. Pola yang serupa juga terjadi di Pantai Sira. Landak laut lebih mudah ditemukan daripada bintang laut.
Di Pantai Sira, populasi bintang laut bertanduk Protoreaster nodusus memang banyak berkurang dalam 25 tahun terakhir, walaupun data kuantitatif tidak tersedia. Pada tahun 1987-1990, populasi bintang laut P. nodusus masih tinggi. Setiap kegiatan praktek lapangan, Pantai Sira merupakan lokasi yang ideal untuk belajar Invertebrata, khususnya Echinodermata. Diperkirakan setiap kuadrat atau transek sabuk ukuran 20 m2, dapat dijumpai 2-8 bintang laut P. nodusus. Pada tahun 1995, populasi bintang laut P. nodusus sudah berkurang menyisakan hanya sekitar seperempatnya saja. Saat praktek lapangan Invertebrata, mahasiswa sudah agak sulit menemukan bintang laut P. nodusus. Pada tahun 2000-an, bintang laut P. nodusus semakin sulit ditemukan. Tanpa usaha yang ekstra keras, mahasiswa tidak dapat menemukan bintang laut P. nodusus. Pada tahun 2007, ketika dilaksanakan praktek lapangan Biologi Laut, tidak dijumpai P. nodusus sama sekali di dalam 30 kuadrat ukuran 20 m2. Kehadiran bintang laut dalam kegiatan praktek tersebut hanya ditemukan di luar kuadrat dengan kelimpahan yang rendah sekali.
Di Pantai Batukijuk, pemanfaatan komunitas Echinodermata tampak berhubungan dengan kelimpahan populasinya. Landak laut yang banyak dieksploitasi secara tradisional oleh masyarakat mempunyai kelimpahan yang rendah, sedangkan jenis-jenis yang tidak dieksploitasi mempunyai kelimpahan yang tinggi. Teripang air Synapta maculata sangat tinggi di Batukijuk, dengan rata-rata 13,0-20,0 individu per kuadrat ukuran 20 m2 (Gambar 1). Landak laut yang terdiri atas berbagai spesies mempunyai rata-rata kelimpahan 0,9-3,8 individu per kuadrat.

Gambar 1. Perbandingan rata-rata (±SD) kelimpahan Echinodermata di Batukijuk, Sekotong.
F. Kebutuhan penelitian
Penelitian tentang komunitas Echinodermata di perairan Pulau Lombok masih sangat kurang. Penelitian tentang komunitas Echinodermata di perairan Pulau Lombok terakhir pada tahun 1994 di Pantai Kuta dan sekitarnya, dan tahun 1998 di Pantai Sira. Data terkini struktur komunitas Echinodermata di Pulau Lombok tidak ada. Penelitian tentang struktur komunitas tersebut sangat penting dilakukan di lokasi yang masih baik, misalnya Pantai Tangsi dan Pantai Pelangan.
Di tingkat populasi, penelitian tentang struktur populasi Echinodermata yang banyak mendapat tekanan eksploitasi dibutuhkan untuk memprediksi dampak eksploitasi tersebut. Echinoidea merupakan kelompok Echinodermata yang paling banyak mendapat tekanan eksploitasi setelah Holothuroidea sulit ditemukan lagi.
Penelitian tentang reproduksi hewan-hewan Echinodermata belum pernah dilakukan di Pulau Lombok. Penelitian ini sangat penting untuk memahami rekruitmen populasi Echinodermata di alam. Fenomena hilangnya bintang laut Protoreaster nodusus di Pantai Sira menimbulkan pertanyaan tentang reproduksi bintang laut tersebut dan tingkat eksploitasinya.
Penelitian eksperimental juga diperlukan untuk membuktikan bahwa jika padang lamun tertutup untuk kegiatan eksploitasi maka komunitas Echinodermata akan pulih kembali. Penelitian ini sebaiknya dilakukan di lokasi yang mempunyai tingkat eksploitasi tinggi, misalnya Pantai Sira dan Pantai Gili Kere.

G. Penutup
Komunitas Echinodermata banyak mendapat tekanan eksploitasi, tetapi sedikit perhatian untuk penelitian. Ada indikasi kuat terjadi penurunan populasi fauna Echinodermata di banyak lokasi, misalnya teripang, bintang laut.
Di kawasan yang terjaga dari eksploitasi, kekayaan spesies dan kelimpahan komunitas Echinodermata dapat terjaga, misal di BBL Sekotong. Penelitian kekayaan spesies komunitas Echinodermata perlu dilakukan di lokasi yang baru mengalami tekanan, misal Pantai Tangsi (Pink).
Penelitian eksperimental dengan kurungan perlu dilakukan di Gili Kere, dimana eksploitasi tinggi. Penelitian ini akan memberikan pelajaran bagi masyarakat bagaimana pemulihan komunitas Echinodermata jika sebagian padang lamun tertutup dari eksploitasi.

Daftar Pustaka
Aziz A, Sugiarto H. 1994. Funa echinodermata padang lamun di pantai Lombok Selatan. In: Kiswara, W, M.K. Moosa dan M. Hutomo (Eds.). ”Struktur Komunitas Biologi Padang Lamun di Pantai Selatan Lombok dan Kondisi Lingkungannya”. P3O LIPI, Jakarta. Pp. 52-63
Bachtiar I, Artayasa PI, Karnan, Zulyadin. 2003. Populasi dua jenis bulu babi Salmacis belli (Dorderlein 1902) dan Tripneustes gratilla (Linnaeus 1758) (Echinoidea) di padang lamun Gili Meringke, Lombok Timur. Jurnal Biologi 7(1): 20-25.
Darsono P, Aziz A. 2002. Komunitas Ekhinodermata dari beberapa pulau di daerah Sulawesi Utara. Majalah Ilmu Kelautan 26(7):77-88
Kasim M. 2009. Grazing activity of the sea urchin Tripnestes gratilla in tropical seagrass beds of Button Island, Southeast Sulawesi, Indonesia. Journal of Coastal Development 13 (1): 19-27
Manez KS, Ferse SCA. 2010. The History of Makassan trepang fishing and trade. PLoS ONE 5(6): e11346. doi:10.1371/journal.pone.0011346
Purwati P. 2005. Teripang Indonesia: Komposisi jenis dan sejarah perikanan. Oseana 20(2): 11-18
Vaıtilingon D, Rasolofonirina R, Jangoux M. 2003. Feeding preferences, seasonal gut repletion indices, and diel feeding patterns of the sea urchin Tripneustes gratilla (Echinodermata: Echinoidea) on a coastal habitat off Toliara (Madagascar). Marine Biology 143: 451–458. DOI 10.1007/s00227-003-1111-y
Yusron E. 2003. Sumberdaya teripang (Holothuroidea) di Perairan Teluk Saleh-Sumbawa, Nusa Tenggara Barat. Prosiding Seminar Riptek Kelautan Nasional. Jakarta, 30 – 31 Juli 2003. BPPT : 48-51
Yusuf MS. 1998. Kemelimpahan Echinodermata di Padang Lamun Pantai Sira, Kabupaten Lombok Barat, Propinsi Nusa Tenggara Barat. Skripsi S1 Jurusan Biologi Lingkungan, Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: