Home > coastal management, coral reef, ekosistem pesisir, terumbu karang > MENGAPA NYALE TIDAK KELUAR DI TAHUN 2015: SEBUAH HIPOTESIS

MENGAPA NYALE TIDAK KELUAR DI TAHUN 2015: SEBUAH HIPOTESIS


Imam Bachtiar

Ketua Pusat Penelitian Pesisir dan Laut, Universitas Mataram

(Dipublikasikan di koran Suara NTB Jumat 13 Pebruari 2015, hal. 14)

Kegiatan pariwisata Bau Nyale tahun 2015 terasa tidak lengkap karena cacing nyale tidak keluar di malam yang diharapkan. Kejadian ini menggugah kembali hipotesis lama yang hampir saya lupakan. Sebagai sebuah hipotesis atau dugaan sementara, kebenarannya masih harus diuji dengan fakta dan kenyataan. Jika kita memiliki catatan keluarnya cacing nyale dalam 10 tahun terakhir, kita dapat menguji apakah hipotesis yang saya tuliskan di sini akan didukung oleh kenyataan.

Acara Bau Nyale (menangkap cacing laut) merupakan salah satu tradisi masyarakat Sasak yang sangat penting, khususnya bagi masyarakat di pesisir selatan. Bau Nyale yang awalnya merupakan peristiwa budaya telah berevolusi menjadi peristiwa ekonomi yang berkaitan dengan pariwisata. Dalam kehidupan masyarakat Sasak, Bau Nyale merupakan upacara adat sekali setahun yang dihiasi dengan beragam pentas budaya. Pentas drama Putri Mandalika merupakan menu utama, yang menyajikan pengorbanan seorang putri untuk kedamaian negaranya. Sang Putri Mandalika menceburkan dirinya ke laut untuk menghindari perang antar kerajaan yang menginginkan dirinya. Nilai pengorbanan putri selalu diajarkan sebagai nilai kebangsawanan Sasak yang lebih mengutamakan kepentingan rakyat di atas dirinya sendiri. Sang Putri yang ikhlas berubah menjadi cacing laut yang memberikan manfaat bagi rakyat Lombok di pesisir selatan. Sejak tahun 1980-an Bau Nyale telah menjadi atraksi pariwisata. Beragam kesenian Sasak dipentaskan di tengah lautan manusia yang berasal dari beragam budaya dan bangsa.

Keluarnya cacing nyale yang menjadi inti dari Bau Nyale sebenarnya merupakan peristiwa biologis. Nyale atau cacing laut yang berbulu, berruas-ruas dan kepalanya tampak berbeda dari tubuhnya itu muncul dari lubang persembunyiannya untuk memijah, melepaskan telur dan sperma ke dalam air. Pembuahan telur oleh sperma tidak mudah dilakukan di laut yang sangat luas. Peluang pembuahan telur oleh sperma dapat ditingkatkan jika keduanya dikeluarkan pada jam dan hari yang sama, ketika pasut rendah (surut). Gerakan gelombang air seolah mengaduk telur dan sperma sehingga pembuahan lebih banyak terjadi. Zigot dan larva yang dihasilkan oleh pembuahan tersebut juga lebih banyak yang selamat dari pemangsaan ikan dan hewan laut lainnya, jika pemijahan dilakukan bersamaan secara masal. Ikan pemangsa yang kekenyangan akan membiarkan zigot dan larva cacing nyale untuk berlalu dengan selamat. Demikianlah Tuhan menciptakan peristiwa biologis dengan sempurna.

Walaupun sudah lebih seperempat abad dijadikan sebagai mascot pariwisata, penentuan hari Bau Nyale tetap dilakukan secara tradisional. Pewaris wariga membacakan lontar dengan metode tertentu sampai dia menemukan tanggal munculnya cacing nyale tersebut dalam bentuk penanggalan Sasak. Penanggalan Sasak tersebut kemudian dikonversikan ke dalam penanggalan hijriah dan masehi. Selanjutnya pemerintah daerah yang mendesain bagaimana upacara adat Bau Nyale akan dilaksanakan sebagai peristiwa budaya dan pariwisata.

Prediksi tradisional tersebut dianggap memiliki akurasi yang baik, sehingga sebagian besar masyarakat Sasak tidak merasa membutuhkan prediksi yang lebih baik. Tidak adanya penelitian ilmiah yang mencoba untuk membuat prediksi yang lebih baik merupakan bukti tidak adanya kegundahan ilmiah di kalangan cendekiawan Sasak. Pemerintah daerah dan sebagian besar masyarakat Lombok bahkan tidak merasa perlu mencatat kemunculan cacing nyale setiap tahun.

Sebagai komoditas dan mascot pariwisata, prediksi secara tradisional tampaknya tidak lagi memiliki akurasi yang dapat diandalkan. Jika dalam 10 tahun terjadi dua kesalahan prediksi, maka pagelaran budaya pada acara Bau Nyale beresiko mengecewakan wisatawan. Acara Bau Nyale di bulan Pebruari 2015 merupakan salah satu kekurangan akurasi dalam memprediksi munculnya cacing nyale tersebut. Demikian juga tidak adanya cacing nyale pada Bau Nyale tahun 2010.

Sebagai peristiwa biologis, munculnya cacing nyale mengikuti siklus alamiah. Jika kita memahami siklus tersebut, prediksi tanggal munculnya cacing nyale lebih mudah dilakukan secara ilmiah. Kebenaran ilmiah memang tidak pernah absolut, tetapi dapat membantu kita memecahkan banyak masalah. Kebenaran ilmiah boleh salah, tetapi kesalahannya harus terukur. Jika saja kita mempunyai catatan munculnya nyale dalam 20 tahun terakhir, kita dapat membuat permodelan matematis yang dapat memprediksi munculnya nyale dengan peluang kesalahan sekali dalam 20 tahun. Sayangnya, catatan seperti itu hampir tidak dapat ditemukan di Pulau Lombok.

Jika memang tidak ada catatan atau data yang dapat digunakan untuk menyususn model matematis, maka cara kedua adalah dengan menggunakan analogi, yaitu mencari persamaan dengan peristiwa yang lain. Di the Great Barrier Reef (GBR) Australia, misalnya, cacing nyale keluar pada saat yang sama dengan pemijahan karang. Pemijahan masal karang di GBR sudah lama dapat diprediksi secara akurat dari penelitian sekitar 5 tahun. Jika bulan purnama jatuh di pertengahan pertama (sebelum tanggal 15), maka pemijahan karang terjadi setelah purnama bulan berikutnya. Dasar teorinya adalah bahwa telur karang belum cukup matang untuk dipijahkan ke dalam air. Jika bulan purnama jatuh di pertengahan kedua (setelah tanggal 15), maka pemijahan karang terjadi pada bulan yang sama. Bulan terjadinya pemijahan karang di GBR adalah bulan November.

Hewan-hewan yang sederhana, seperti karang, menggunakan beragam tanda-tanda alam untuk secara bersama-sama memijah secara masal. Tanda-tanda alam tersebut memberikan peluang yang maksimal bagi kelestarian jenis hewan tersebut. Perubahan suhu air laut biasanya dijadikan sebagai tanda untuk memulai memproduksi telur dan sperma. Pembentukan telur biasanya 4-6 bulan, sedangkan pembentukan sperma hanya 2 bulan Pembentukan telur berlangsung lebih awal agar dapat dipijahkan bersamaan dengan sperma. Fase bulan, bulan purnama atau bulan mati, berkaitan dengan pasut (pasang surut). Fase bulan digunakan untuk menentukan hari pemijahan, agar memperoleh hasil pembuahan maksimal. Sedangkan lama gelap bulan (sebelum muncul terang bulan) dan lama penyinaran bulan merupakan tanda untuk menentukan jam pemijahan. Salinitas juga dapat dijadikan sebagai tanda untuk memijah ketika cahaya bulan tidak ada. Karang dan cacing nyale sama-sama merupakan hewan laut yang mempunyai struktur sederhana.

Dengan menggunakan analogi antara karang dan cacing nyale, kita dapat membuat hipotesis untuk memprediksi munculnya cacing nyale di Lombok. Bulan utama munculnya cacing nyale adalah Pebruari. Jika purnama di bulan Pebruari jatuh sebelum tanggal 15, maka nyale akan muncul di bulan Maret (nyale poto, nyale akhir), karena telur nyale belum matang. Jika purnama jatuh setelah tanggal 15 Pebruari, maka cacing nyale akan muncul setelah purnama bulan Pebruari (nyale tunggak, nyale awal). Jika purnama jatuh di pertengahan bulan, antara tanggal 14-16 Pebruari, maka cacing nyale akan muncul dua kali, setelah purnama Pebruari dan purnama Maret.

Hipotesis tersebut berdasarkan asumsi bahwa perilaku reproduksi cacing nyale tidak banyak berbeda dengan karang. Sebagaimana dijumpai di GBR, prediksi pemijahan cacing nyale juga sama dengan prediksi pemijahan karang. Mari kita buktikan, apakah hipotesis tersebut didukung dengan bukti berupa kenyataan.

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: