Home > coastal management, coral reef, ekosistem pesisir, terumbu karang > CACING NYALE BERTELUR EMAS DI LOMBOK TENGAH

CACING NYALE BERTELUR EMAS DI LOMBOK TENGAH


Imam Bachtiar

Dosen Biologi di FKIP Universitas Mataram

(Dipublikasikan di Lombok Post, Selasa 17 Januari 2017, Opini, halaman 9)

 

Bulan depan masyarakat Kabupaten Lombok Tengah akan melaksanakan tradisi bau nyale di perairan Pantai Seger dan sekitarnya. Tradisi tahunan ini akan diikuti oleh puluhan ribu wisatawan, baik wisatawan nusantara maupun mancanegara. Tradisi bau nyale sangat tergantung pada keberadaan cacing nyale, yaitu cacing yang menghasilkan nyale. Tanpa cacing nyale tradisi bau nyale tidak dapat dilaksanakan.

Jika cacing nyale dapat dijual ke sebuah perusahaan, sehingga tradisi bau nyale tidak lagi dapat dilaksanakan di Kecamatan Pujut, Lombok Tengah. Berapakah harga cacing nyale yang pantas kita tawarkan? Apakah kita akan menjualnya dengan harga 10 milyar, ataukah dengan harga 100 milyar? Dapatkah kita menentukan harga dari cacing nyale tersebut? Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini mencerminkan seberapa penting cacing nyale bagi masyarakat Pujut atau bagi masyarakat Lombok Tengah pada umumnya. Tanpa cacing nyale, tradisi bau nyale tidak dapat dilaksanakan. Tanpa cacing nyale, Lombok Tengah kehilangan salah satu kebanggaan identitas kedaerahannya.

Bagi masyarakat modern Lombok Tengah, cacing nyale bukan lagi hanya sekedar akar dari tradisi atau kebanggaan daerah, melainkan juga sumber perekonomian daerah yang sangat penting. Cacing nyale mendatangkan banyak rupiah dan dollar ke Lombok Tengah dalam bentuk kunjungan wisatawan atau investasi sarana dan fasilitas pariwisata. Jika kita sulit menentukan harga cacing nyale karena terlalu penting, maka cacing nyale dapat dianalogikan dengan cerita angsa yang bertelur emas. Cacing nyale bertelur emas.

Jika kita memiliki seekor angsa yang bertelur emas, maka kita akan memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Kita juga akan melindunginya dari para pencuri dan pengiri yang mencoba mengambil atau membunuh angsa tersebut. Kita juga akan belajar dengan sungguh-sungguh tentang bagaimana caranya agar si angsa bertelur emas tersebut dapat hidup nyaman dan menghasilkan anak yang juga mampu bertelur emas. Jika diperlukan, kitapun sanggup belajar ke China atau ke Baghdad untuk dapat memperoleh ilmu berternak angsa bertelur emas. Kita juga berharap dapat mewariskan angsa bertelur emas kepada anak cucu kita. Kita membutuhkan jaminan bahwa ketika induknya sudah mati karena penuaan, kita masih memiliki penggantinya. Singkatnya, kita akan berupaya maksimal untuk menjaga kelestarian angsa yang telah menjadi aset ekonomis penting tersebut karena kita khawatir si angsa mati sebelum mempunyai anak. Apakah kita juga merasakan kekhawatiran yang sama terhadap kelestarian cacing nyale?

Banyak sekali fakta di Lombok Tengah sendiri, bahwa semua sumberdaya alam dapat habis, termasuk sumberdaya yang dapat diperbarui, termasuk cacing nyale, jika kita tidak melakukan upaya menjaga kelestarian mereka. Banyak burung yang tahun 1970-an rajin mengiringi kita buang hajat di sungai, sekarang tidak pernah kelihatan lagi. Mereka hanya dapat disaksikan di pulau lain atau di televisi. Cumi-cumi yang dulu sangat banyak di tahun 1980-an, bahkan kita tidak punya tempat untuk menjemurnya, sekarang sudah sulit untuk mendapatkaannya. Kita juga sering mendengar betapa banyaknya hewan yang punah akibat ulah manusia.

Kepunahan lokal suatu populasi hewan tidk terjadi secara mendadak, melainkan secara perlahan-lahan, sehingga seringkali tidak disadari kecuali oleh peneliti yang rajin menghitung kelimpahannya. Di tahap awal ditandai dengan penurunan hasil tangkapan yang tidak teratur, kemudian terjadi penurunan hasil tangkapan secara kontinyu. Hasil tangkapan semakin sedikit dan semakin sedikit. Akhirnya, populasi hewan tersebut mengalami kepunahan lokal, hilang dari tempat tersebut, walaupun masih dapat dijumpai di lokasi lain.

Skenario yang sama sudah terjadi pada cacing nyale. Cacing nyale setiap tahun menghasilkan nyale, yang dipanen masyarakat pada saat tradisi bau nyale. Hasil tangkapan nyale diduga telah berkurang secara kontinyu, setiap tahun semakin sedikit. Pada tahun 2016, diperkirakan jumlah penangkap nyale 1.041 orang dengan hasil tangkapan 1,8 ton (Bachtiar et al., 2016). Tidak ada data pembanding, apakah jumlah tangkapan tersebut menurun atau meningkat, apakah jumlah penangkap nyale menurun atau meningkat. Dalam tiga tahun terakhir mengikuti tradisi bau nyale, semua penangkap nyale tradisional selalu menyatakan bahwa tangkapan tahun lalu lebih banyak. Apakah ini pertanda hasil tangkapan sudah menurun secara kontinyu?

Cacing nyale dapat hilang dari Kecamatan Pujut, jika habitat cacing tidak dilindungi dari penggunaan racun oleh pemadak dan jika jumlah penangkap nyale terus bertambah berlipat-ganda. Nyale yang kita tangkap sebenarnya adalah bagian epitoki (generatif) cacing yang berisi telur dan sperma. Bagian epitoki ini didesain penciptanya untuk mudah pecah di dalam air sehingga terjadi pembuahan telur oleh sperma. Pembuahan di air laut membutuhkan jumlah telur dan sperma yang sangat banyak karena ada faktor pengenceran oleh air laut. Jika telur dan sperma yang tersisa di laut terlalu sedikit, maka proses pembuahan menurun dan anak cacing yang dihasilkan juga sedikit. Kegagalan pembuahan dan kegagalan rekruitmen yang terjadi secara kontinyu dalam jangka panjang akan menyebabkan kepunahan lokal. Cacing nyale dapat punah di Pantai Seger dan sekitarnya.

Tingginya nilai ekonomis dan kultural dari cacing nyale membuat masyarakat dan pemerintah tidak pernah dan tidak berani membayangkan apa yang terjadi jika cacing nyale hilang dari kawasan mereka. Berapa banyakkah orang yang sedih dan menyesal tidak memperlakukan cacing nyale secara hewani (setara dengan manusiawi)? Berapa banyak cucu dan cicit yang memaki kita di kuburan karena kita tidak mampu mewariskan cacing nyale kepada keturunan kita? Membayangkan kejadian hilangnya cacing nyale saja sudah membuat hati kita bersedih. Bagaimana jika itu benar-benar terjadi?

Kabupaten Lombok Tengah mempunyai angsa yang bertelur emas, yaitu cacing nyale. Cacing yang hampir tidak pernah kita lihat badannya itu telah menghasilkan banyak uang dari pariwisata, memberikan kebanggaan dan kehormatan masyarakat sebagai trah Pujut atau suku Sasak, serta memberikan ketentraman dan keharmonisan hidup masyarakat. Apakah kita sudah melakukan sesuatu untuk menjaga dan memeliharanya? Jawaban pertanyaan ini menjadi cermin apakah kita termasuk orang-orang yang bersyukur atau yang berbuat kerusakan.

Cacing nyale harus dijaga kelestariannya jika kita mengharapkan kelestarian tradisi bau nyale. Karena itu, pengelolaan cacing nyale adalah kebutuhan yang mendesak. Cacing nyale hidup di kawasan pesisir sehingga pengelolaan cacing nyale adalah tanggung-jawab pemerintah provinsi. Dinas Perikanan dan Kelautan NTB sebagai penerima mandat pengelolaan sumberdaya pesisir dan laut berkewajiban melakukan pengelolaan cacing nyale. Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah juga memiliki kewajiban untuk turut berpartisipasi dalam pengelolaan cacing nyale, karena cacing nyale adalah akar budaya masyarakat Lombok Tengah. Sudah saatnya kita memiliki Rencana Pengelolaan Cacing Nyale dan Lembaga Pengelolaan Cacing Nyale. Tanpa keduanya, cacing nyale secara perlahan dapat habis dan kita hanya dapat menyesalinya.

 

 

 

Advertisements
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: