Home > coastal management, coral reef, ekosistem pesisir, terumbu karang > MENGAPA NYALE TIDAK KELUAR PADA BAU NYALE 17 PEBRUARI 2017 ?

MENGAPA NYALE TIDAK KELUAR PADA BAU NYALE 17 PEBRUARI 2017 ?


Oleh Imam Bachtiar

(Dipublikasikan di halaman Opini, Lombok Post, 20 Pebruari 2017, hal. 9)

Sejumlah tulisan di media sosial dan media on-line mempertanyakan, mengapa nyale tidak keluar pada acara Bau Nyale 2017? Mengapa nyale juga tidak keluar pada saat acara Bau Nyale 2015? Semua ini menunjukkan bahwa memprediksi keluarnya nyale memang tidak mudah. Kekurang-akuratan prediksi keluarnya nyale tidak hanya terjadi di Pulau Lombok, tetapi juga terjadi di Pulau Samoa dan Kepulauan Hawaii. Tulisan ini mencoba mencari penjelasan ilmiah ketidak-akuratan tersebut dan cara baru (ilmiah) memprediksi keluarnya nyale.

Selama ini prediksi keluarnya nyale didasarkan pada cara-cara tradisional, dengan menggunakan warige. Warige sendiri adalah hasil karya adi luhung para pemikir Sasak  jaman dahulu. Kompleksitas perilaku cacing nyale, siklus reproduksi dan siklus oseanografi ternyata tidak semuanya mampu dimasukkan ke dalam model prediksi tradisional. Dalam lima tahun terakhir, kesalahan prediksi terjadi dua kali.

Model prediksi ilmiah belum tersedia sampai saat ini. Memang patut disayangkan, tidak ada ilmuwan Lombok yang mendalami hal ini secara ilmiah. Mungkin ada kehati-hatian yang besar dari para ilmuwan untuk tidak bersinggungan dengan ranah tradisional. Kehati-hatian yang berlebihan ini sebenarnya dapat dimaklumi untuk menghindari konflik antara ilmuwan dan tetua adat yang bisa saja muncul jika terjadi perbedaan prediksi antara mereka.

Membiarkan ketidak-akuratan prediksi Bau Nyale berada di tangan para tetua adat juga kurang etis. Sebagai tetua adat mereka sudah mengambil tanggung-jawab besar untuk menjaga adat dan budaya Sasak dalam masyarakat yang terinfeksi budaya global. Mengapa mereka masih harus dibebani dengan urusan matematis dan biologis cacing nyale? Sudah seharusnya para ilmuwan turun tangan mengambil tanggung-jawab yang besar ini untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan prediksi yang lebih akurat.

Dalam tiga tahun terakhir ini saya mencoba mengembangkan model untuk memprediksi munculnya nyale, khususnya di Pantai Seger dan sekitarnya. Sayangnya, data yang saya perlukan tidak tersedia di semua instansi pemerintah, baik provinsi maupun kabupaten. Saya masih berharap suatu saat ada masyarakat Sasak yang akan memberikan data tersebut untuk dikaji bersama. Dibutuhkan setidaknya data 30 tahun untuk menyusun model tersebut, tetapi data yang tersedia hanya 6 tahun. Dengan demikian, model saya yang minimalis ini juga masih dalam tahap perkembangan.

 

Nyale Selalu Keluar Tanggal 20 Kalender Lunar

Kalender lunar adalah kalender yang dibuat berdasarkan revolusi bulan terhadap bumi. Kalender Rowot Sasak, Kalender Bali dan Kalender Islam (Hijriah) semuanya merupakan kelender lunar, sedangkan kalender umum (Masehi) merupakan kalender solar, yang berdasarkan revolusi bumi terhadap matahari. Semua fauna laut yang tidak bertulang-belakang (Invertebrata) mempunyai siklus reproduksi yang selaras dengan siklus bulan atau kalender lunar.

Dalam Kalender Rowot Sasak, keluarnya nyale terjadi pada hari keduapuluh bulan kesepuluh. Hari keduapuluh berarti tanggal 20 lunar, yaitu lima hari setelah purnama atau P+5. Pada bulan Pebruari 2017, purnama muncul pada tanggal 12 Pebruari berdasarkan kalender nasional (Indonesia). Karena itu, sangat wajar jika para tetua adat Sasak memprediksi nyale muncul tanggal 17 Pebruari. Mereka sudah menjalankan tugasnya secara cermat sesuai dengan prosedur baku (SOP) P+5. Sehari sebelumnya, Kamis tanggal 16 Pebruari 2017, sebagian nyale telah keluar di Pantai Seger. Masyarakat meyakini, hari itu adalah permulaan keluarnya nyale dan hari berikutnya adalah puncak keluarnya nyale. Ternyata pada hari ditetapkannya Bau Nyale, 17 Pebruari, hampir tidak ada nyale keluar. Saya termasuk yang datang ke Pantai Seger dan pulang dengan seribu pertanyaan sepanjang perjalanan.

Banyak yang tidak menyadari bahwa kalender lunar tidak hanya satu versi. Dalam dua tahun terakhir ini, saya menyaksikan bahwa kalender lunar yang sesuai dengan keluarnya nyale bukan kalender nasional, Kalender Rowot Sasak ataupun Kalender Bali, melainkan kalender lunar internasional di internet (timeanddate.com). Pada tahun ini, purnama muncul pada tanggal 11 Pebruari berdasarkan kalender lunar internasional. Jika menghitung P+5 dengan kalender tersebut, maka diperoleh tanggal 16 Pebruari 2017 sebagai hari puncak munculnya nyale. Munculnya nyale sehari sebelum acara Bau Nyale 2017 dapat dijelaskan dengan kalender lunar internasional tersebut.

Kejadian yang sama juga muncul tahun lalu. Kalender nasional menunjukkan bahwa purnama tanggal 24 Pebruari 2016. Kalender Rowot Sasak menyatakan purnama tanggal 26 Pebruari, sedangkan di kalender lunar internasional purnama tanggal 23 Pebruari. Nyale keluar tanggal 28 Pebruari 2016, hari Minggu, sesuai dengan kalender lunar internasional. Dalam dua tahun ini keluarnya nyale mengikuti kalender lunar internasional.

Bulan Keluarnya Nyale

Di dalam model prediksi yang sedang saya kembangkan, bulan keluarnya nyale ada tiga variasi. Pertama, nyale keluar hanya bulan Pebruari. Kedua, nyale keluar hanya bulan Maret. Ketiga, nyale keluar dua kali di bulan Pebruari dan Maret. Ketiga tipe bulan keluarnya nyale tersebut dibuat berdasarkan data yang sangat sedikit, sehingga akurasi model belum teruji, terutama variasi ketiga.

Nyale keluar di bulan Pebruari, jika purnama muncul di antara tanggal 15-23 Pebruari. Misalnya, jika purnama datang tanggal 23 Pebruari maka nyale keluar tanggal 28 Pebruari (P+5). Jika purnama muncul tanggal 15 Pebruari, maka nyale keluar tanggal 20 Pebruari. Dari sedikit data yang tersedia, model variasi yang pertama ini sangat konsisten atau dapat dipercaya.

Keluarnya nyale di bulan Maret dapat berasal dari dua macam kejadian. Nyale keluar di bulan Maret, jika purnama muncul tanggal 24-29 Pebruari. Nyale juga keluar di bulan Maret saja, jika purnama muncul di awal Pebruari, yaitu tanggal 1-6 Pebruari. Pada kejadian yang kedua ini, hari munculnya nyale mengikuti purnama di bulan Maret, tetap dengan rumus P+5. Misalnya, tahun 2015 purnama muncul tanggal 4 Pebruari sehingga pemerintah menetapkan acara Bau Nyale tanggal 9 Pebruari, ternyata nyale hanya keluar tanggal 11 Maret 2015.

Nyale keluar dua kali setahun, bulan Pebruari dan Maret, jika purnama muncul antara tanggal 7-14 Pebruari. Contohnya, purnama muncul tanggal 7 Pebruari 1993 dan nyale keluar tanggal 12 Pebruari 1993 dan mungkin juga 13 Maret 1993. Keluarnya nyale tanggal 12 Pebruari 1993 dikonfirmasi oleh Jekti et al. (1993), tetapi keluarnya nyale 13 Maret 1993 belum terkonfirmasi. Model variasi ketiga ini akan diuji tanggal 17 Maret 2017. Prediksi ini juga dapat diuji dengan catatan keluarnya nyale tahun 2001, 2006, 2009 dan 2012. Partisipasi pembaca ditunggu untuk pengembangan model prediksi ilmiah ini.

Advertisements
  1. farida
    September 17, 2017 at 6:09 am

    sore pak ,terimna kasih info yang bapak berikan , pak saya rencana ingin membuat pemodelan matematikanya , kalau bapak berkenan , saya bolehm= minta data pdf dari hasil penelitian bapak tentang cacing nyale dan di mana saya bisa dapatkan data pemunculan cacing nyale , di 6 tahun yang bapak dapatkan ,
    terima kasih pak

  2. farida
    September 17, 2017 at 7:45 am

    pak sayaboleh minta kontak emailo bapak ?
    terima kasih pak

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: