Home > coastal management, coral reef, ekosistem pesisir, terumbu karang > BENARKAH CACING NYALE MENGGUNAKAN KALENDER CINA?

BENARKAH CACING NYALE MENGGUNAKAN KALENDER CINA?


Imam Bachtiar
Dosen Pendidikan Biologi, FKIP, Universitas Mataram

(Dipublikasikan di Lombok Post, Halaman Opini, halaman 5, tanggal 7 Januari 2018)

Perkiraan atau prediksi tanggal keluarnya nyale, epitoki dari cacing nyale, merupakan hari penting yang ditunggu warga Pulau Lombok dengan berbagai macam rasa. Bagi masyarakat tradisional, perkiraan tanggal keluarnya nyale merupakan tanggal yang ditunggu-tunggu untuk berkumpul kembali dengan kerabat dan sahabat di Pantai Seger dan sekitarnya. Bagi pemimpin adat Sasak, tanggal perkiraan tersebut adalah hari penting yang membutuhkan persiapan serius untuk melaksanakan festival budaya tahunan, bau nyale. Bagi pemerintah daerah (kabupaten dan provinsi) perkiraan tanggal keluarnya nyale adalah hari yang harus segera dipromosikan agar jumlah wisatawan yang datang ke festival bau nyale terus meningkat. Bagi akademisi dan peneliti, tanggal tersebut memunculkan tanda-tanya apakah mengikuti pola yang sudah dikenali ataukah pola kemunculannya yang harus direvisi.
Sejak bau nyale menjadi komoditas wisata, pemerintah ikut mengambil bagian dengan memperkaya pelaksanaan bau nyale dengan berbagai macam pertunjukkan, baik yang tradisional maupun budaya pop. Pemerintah juga menyebarluaskan tanggal prediksi keluarnya nyale melalui semua media diseminasi. Pengayaan budaya bau nyale oleh pemerintah disamping membawa banyak dampak yang positif, juga menghadirkan dampak negatif. Pemuka adat Sasak, Lalu Wacana (almarhum) pada tahun 1992 menuliskan bahwa budaya bau nyale biasanya dilaksanakan selama tiga hari. Dengan adanya festival yang dipromosikan pemerintah, budaya bau nyale ditentukan hanya satu hari, yaitu puncak keluarnya nyale.
Pemerintah dibantu para pemangku adat menyebutkan festival bau nyale dalam dua hari. Hari yang disebutkan pertama adalah hari pesta budaya. Pada waktu sore hari dilaksanakan pawai budaya Sasak, termasuk memperkenalkan iring-iringan Putri Nyale. Pada malam harinya ditampilkan berbagai macam budaya Sasak kepada para wisatawan. Pada hari kedua dini hari merupakan puncak keluarnya nyale. Wisatawan yang sudah terpuaskan dengan berbagai tontonan kesenian, pada dini hari akan merasakan atmosfir budaya bau nyale. Puluhan ribu orang berbaur di kawasan intertidal untuk menangkap nyale. Hasil sensus kami di tahun 2016, jumlah orang yang keluar dari pantai dari pukul 05:00 sampai 08:00 lebih dari 26.000 orang. Sekilas, upaya pemerintah untuk meningkatkan gairah dan manfaat tradisi bau nyale sama sekali tidak membawa masalah. Sebenarnya, perubahan pesta bau nyale dari 3 hari (2 malam) menjadi 2 hari (semalam) membawa masalah dalam keakuratan prediksi tanggal keluarnya nyale.
Pesta bau nyale tahun 2017 adalah salah satu contoh dari masalah yang ditimbulkan oleh pemendekan prediksi keluarnya nyale dari 2 malam menjadi semalam. Pertunjukkan seni budaya Lombok dilaksanakan pada tanggal 16 Februari dan pesta bau nyale dilaksanakan tanggal 17 Februari. Nyale ternyata telah keluar banyak pada tanggal 16 Februari dini hari, dan hampir tidak ada yang keluar (tersisa) di pagi hari tanggal 17 Februari. Prediksi puncak keluarnya nyale berbeda satu hari lebih awal. Ketika pesta bau nyale masih dilakukan selama 2 malam, keluarnya nyale pada tanggal 16 Februari masih akan terdeteksi dan masyarakat masih dapat menikmaati puncak keluarnya nyale. Setelah bau nyale dilaksanakan hanya satu malam, hanya sebagian masyarakat yang keluar tanggal 16 Februari yang menikmati tangkapan nyale.
Sudah lama diketahui oleh para pemikir atau cendekia tradisional Lombok, bahwa nyale keluar pada tanggal 20 kalender lunar (Hijriyah), bulan Februari atau Maret. Di pantai selatan Pulau Lombok, nyale tidak hanya muncul di Pantai Seger dan sekitarnya, melainkan juga di Pantai Kaliantan, Pantai Selong Belanak, Pantai Mekaki dan sebagainya. Semua pantai selatan tersebut menunjukkan hari keluarnya nyale pada tanggal yang sama. Nyale selalu keluar pada tanggal 20 lunar, bulan Februari atau Maret. Sebagian masyarakat juga meyakini bahwa nyale keluar dua kali setahun, di bulan Februari dan bulan Maret. Dalam tiga tahun terakhir, 2015-2017, Pantai Seger selalu didatangi oleh ribuan masyarakat tanggal 20 di kedua bulan tersebut. Faktanya, nyale tidak selalu keluar di kedua bulan. Kadang nyale keluar hanya di bulan Maret, misalnya tahun 2015. Nyale kadang hanya keluar di bulan Februari, misalnya tahun 2016. Nyale juga bisa keluar di kedua bulan, Februari dan Maret, yaitu pada tahun 2017.
Pada tahun 2018, sampai hari ini pemerintah belum mengumumkan prediksi tanggal keluarnya nyale. Dalam Lombok Post, tanggal 3 Januari 2018, Mamiq Bayan yang juga salah satu budayawan Sasak memprediksi nyale akan keluar tanggal 7-8 Maret. Dua tanggal perkiraan tersebut biasanya berarti bahwa nyale sudah mulai keluar pada tanggal 7 sebagai pembuka dan puncak keluarnya nyale terjadi pada tanggal 8 Maret. Sekarang setiap prediksi keluarnya nyale memang menggunakan dua hari.
Selama tiga tahun mengamati pola keluarnya nyale, diperoleh indikasi bahwa keluarnya nyale mengikuti Kalender Cina, bukan Kalender Nasional, Kalender Bali atau Kalender Rowot. Tahun 2016, terdapat 3 hari purnama yang berbeda-beda. Kalender Nasional menetapkan purnama Februari tanggal 22, Kalender Rowot tanggal 24 dan Kalender Bali anggal 21, sedangkan Kalender Cina tanggal 23. Cacing nyale ternyata memijah pada tanggal 28 Februari. Dengan perhitungan tanggal pemijahan adalah H+5, maka purnama yang digunakan oleh cacing nyale adalah tanggal 23, yaitu dari Kalender Cina atau Kalender Internasional dari http://www.dateandtime.com, bukan kalender nasional atau lokal. Pada tahun 2017, kejadian yang serupa juga terulang kembali. Kalender Nasional dan Kalender Rowot menetapkan purnama tanggal 12 Februari, sedangkan Kalender Bali, Kalender Internasional dan Kalender China menetapkan purnama tanggal 11 Februari. Nyale ternyata keluar tanggal 16 Februari, sesuai dengan peritungan purnama Kalender Internasional, Kalender China dan Kalender Bali, sehari lebih awal dari Kalender Nasional dan Kalender Rowot.
Bau nyale tahun 2018 akan menjadi ujian kembali pada penanggalan lunar di Kelender Nasional dan Kalender Rowot. Kalender Nasional menetapkan purnama bulan Maret 2018 jatuh pada tanggal 3 Maret, sedangkan Kalender Cina dan Kalender Internasional menetapkan purnama tanggal 2 Maret. Mamiq Bayan yang memprediksi puncak keluarnya nyale tanggal 8 Maret dini hari sudah sesuai dengan penanggalan lunar di Kalender Nasional. Jika nyale mengikuti penanggalan lunar di Kalender Cina dan Kalender Internasional, maka nyale akan keluar paling banyak pada tanggal 7 Maret dini hari. Sebagai peneliti, saya membuat dugaan (hipotesis) berdasarkan konsistensi cacing nyale dalam tiga tahun terakhir, puncak keluarnya nyale tanggal 7 Maret. Benarkah cacing nyale menggunakan Kalender Cina? Wallahu alam bissawab.

Advertisements
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: